Jumat, 06 Agustus 2010

Tidak.. tidak...tidaaaakkkk

Ari product Citayam asli ( biasa diucapkan Citayem ) lugu ditambah emosian, gampang nangis.Pernah hanya karena di tilpun emaknya sakit, dia sudah bercucuran airmata. Dipekerjaan sebagai waiter di sebuah restoran bersahabat erat dengan Giman, asli Pacitan. Siang malam mereka bersama, artinya keduanya menginap di lantai atas restoran tersebut yang memang diperuntukan bagi karyawan yang tidak pulang. Gimanpun tidak kurang lugunya dari Ari, meski yang satu sudah kenal mall dari kecil dan yang satunya kenal wedus dari kecil, mereka punya persamaan mendalam soal keluguan.
Ari van Citayam sudah kepengin menikah, maklum usia sudah sangat cukup dan soal kebutuhan biologis tidak mengenal lugu dan non lugu kan? Ari kekeuh dengan pendirian bahwa tidak akan menikah dengan gadis kota karena menurutnya gadis kota sudah jarang yang masih suci.Maka ketika ada kesempatan berkenalan dengan seorang wanita tetangga Giman di kampung sono, langsung disambar. Wanita yang bernama mirip artis ini membuat Ari mabuk kepayang, apalagi foto yang dikirim via mms sangat menjanjikan. Senyum alim bak monalisa, rambut panjang ala Sunsilk, kerling mata serupa Dewi Persik. Siang malam hanya foto wanita itulah yang ada di benaknya dengan segala impian muluk. Setelah 6 berpacaran lewat media hp, saling mengirim foto diri, dan ngobrol tiap malam berjam-jam, Ari sudah bulat bertekad.
Berusaha minta ijin kepada atasan untuk libur 2 minggu demi menemui pujaan hati, namun ijin tidak bisa diperoleh.
Ari semakin gelisah, teman2 sekerja sudah mulai sebal karena Ari tidak melakukan tugasnya dengan baik , alhasil teman2 yang ketempuhan memperbaiki kesalahanya.
Suatu pagi yang cerah, Ari tidak kelihatan dari pagi buta, teman2 mengira dia pulang ke Citayam rindu ibunya. Restoran berjalan seperti biasa sampai sekitar jam 9 pagi sesaat sebelum restoran buka, ada tamu wanita yang mencari Ari. Salah satu karyawan wanita menemui sebentar dan terus masuk kerestoran bagian belakang dan tertawa ter pingkal-pingkal.Dia hanya menunjuk keluar sambil berkata tidak jelas; “ Ari.. Ari…pacar…” Teman2 nya maklum dan bergantian mengintip, keluar dan masuk lagi dengan ter pingkal-pingkal, hanya Giman yang segera tilpun Ari, yang saat itu ternyata sedang di Pulau Gadung dalam rangka menjemput kekasih hati. Tidak berapa lama Aripun datang dengan nafas memburu namun wajah cerah ceria, sampai ketika dia menatap langsung gadis impian, wajahnya berubah pias dan bibirnya gemetar, “tidak..tidak….tidak…” begitu berulang kali dia berbisik….. Dia terduduk didepan gadis itu dengan lemas, berkali-kali dia mendekap foto yang merasuki mimpinya setiap malam. Gadis itu berusaha meyakinkan Ari bahwa dirinya yang ada dalam foto itu, dan menuntut janji Ari untuk menikah karena dia sudah pamit kepada keluarganya untuk menikah di Jkt. Kathy, nama gadis itu, yang berwajah mirip pok Nori, setelah di desak akhirnya mengaku bahwa foto yang dikirim ke Ari adalah foto teman nya, dia juga mengaku sudah umur 32 janda beranak satu usia 15 tahun, dan nama aslinya bukanlah Kathy, tetapi Katijah. Teman2 nya berbalik dari tertawa menjadi sedih melihat Ari begitu terpukul. Meskipun samaran sudah terbongkar Katijah tetap menuntut Ari untuk “ bertanggung jawab” karena dia sudah jauh datang dari Pacitan ke Ibukota. Hanya atas dukungan teman2 nya akhirnya Ari bisa memulangkan Katijah ke kampungnya. Bagaimana dengan Giman ?. Dengan muka polos tidak berdosa hanya mengatakan : “ setahu saya dia dulu cakep, kok sekarang jelek sekali ya” Gedubrak……………………
Juli 2010