Minggu, 08 Januari 2012

Tanggal 20 Desember 2011
Wahyu tilpun jam 7 pagi, Nang No meninggal katanya. Ah mana mungkin? baru saja 3 hari yang lalu pulang dari Jakarta, naik pesawat dari Jakarta. Memang beliau mengatakan ingin naik pesawat, karena belum pernah. Selama di Jkt beliau sehat dan gembira dan bahagia. Anak sulungnya lulus S-2 dan sudah membeli rumah.
Nang No adalah adik ibuku, sejak kecil sudah ikut ibuku, kami tumbuh bersama, jadi dia seperti ayah ke 2 buatku. Ketika kecil aku sering tidur di gendong sama dia, bahkan ketika dia menikah, kami biasa tidur bertiga. Anak-anaknya sudah seperti adik kandungku, karena aku anak bungsu. Kami memanggilnya Nang No, karena ikutan cara memanggil ibu padanya. Padahal arti Nang adalah anak lelaki kecil. Kami sangat sayang padanya. Dia orang yang lurus, baik hati, sederhana dalam berfikir sederhana dalam tindakan. Ibu dan dia tak adalah dua serangkai yang tak terpisahkan. Aku masih ingat kesedihannya ketika Ibuku sedo Oktober 05.2010 silam. 
Mungkin jantung yang merenggutnya, karena tiba2 saja sakit tak tertahankan di punggung, kemudian pingsan dan terus sedo.
Selamat jalan pamanku tersayang, maafkan semua kesalahanku, semoga diterima semua amal ibadah dan kebaikanmu, semoga Gusti Allah berkenan mengampuni dosa2 mu dan menempatkamu disisinya yang indah. Pada saatnya kita akan bertemu kembali
Amin
Salam duka,

Mari belajar iklhas, Allah hanya memberikan yang terbaik buat umatnya.