Jumat, 10 Desember 2010

Merapi 3

Mas YI memberikan nama Fajar sebagai CP untuk posko di dusun Butuh kelurahan Babatan. Setelah berkutat dengan waktu yang tidak match, akhirnya di setujui habis mahgrib ketemuan di hotel kami. Jadi seperti di kejar mak Lampir sepulang dari Posko Kraguman, kami segera bersiap untuk bertemu dengan relawan ini. Rupanya Fajar masih belum turun dari posko karena menunggu mobil, yang dalam bayanganku adalah mobil bak untuk membawa sembako, karena logistic inilah yang dibutuhkan di desa ini. Sambil menunggu kami makan sekedarnya, karena masih merasa kerja belum tuntas. Apa mau di kata, Fajat sampai di Jogja sudah jam 21.00. Terpaksa dengan terburu-buru kami belanja sembako di Super Indo, di Jl Magelang karena hanya toko ini yang masih buka. Namanya super indo tetapi pelayanannya Indo banget. Baru belanja sebentar, sudah di usir sama satpam wanita karena sudah waktu tutup, meski kami berusaha menawar bahwa ini untuk kemanusiaan, tetap saja lampu langsung di matikan dan kami digiring ke kasir. Terpaksa bumbu dapur pesanan tidak sempat kami belikan.
Saatnya kami bertemu dengan Fajar didepan toko, kami kecelik karena ternyata dia dan ketiga teman adalah pemuda tanggung. Siapa sangka anak2 muda dengan tampilan “ begajulan” ini memilih jadi “relawan dadakan” dari pada bermalam mingguan di cafĂ©. Kecelik yang kedua ternyata dia tidak membawa mobil bak, tetapi starlet kecil. Terpaksa sembako kami muat di Inova kami dan bagasi mobil Fajar, sebagian di pangku anak2 muda hebat tadi. Sebenarnya kami tidak berencana untuk ikut naik ke merapi, sehubungan dengan janji kami untuk menjemput teman2 di posko pagi pagi. Apalagi badan manula ini sudah ingin istirahat.
Fajar memimpin di depan, berjalan dengan kecepatan sedang kearah Magelang. Langit bersih, bulan masih bulat berenang di lautan langit. Hampir sampai Muntilan aku nyaris terlelap, ketika mobil belok ke kanan. Fajar tidak bisa melaju lagi, berjalan pelan, barangkali takut kami kehilangan arah. Tembus kejalan besar lagi entah dimana, belok kanan, kiri, naik, begitu terus. Pemandangan di luar semakin horor, pohon salak yang roboh sejajar bumi, bekas pohon tumbang, daun nyiur yang tak mampu lagi melambai. Kabut turun, melayang layang tebal tipis bergantian. . Dibawah cahaya bulan, pemandangan ini membuat hati jadi ciut. Jalan semakin naik, dengan setengah gemetar aku call Fajar.
“ Masih jauh nggak mas”
“ Nggak bu, sebentar lagi”
Call lagi
“ Masih jauh nggak?”
“ Seebentaaar lagi”
Mungkin memang sebentar tapi bagi kami yang sudah tidak tenang, terasa berbentar-bentar. Segala imajinasi menggerayangi pikiran kami. Bagaimana kalau tiba2 si wedus penyebar maut iseng berjalan-jalan kebawah, kami pasti nggak bisa lari karena jalan cuma cukup 1 mobil gak bisa mutar. Bagaimana kalau gempa besar, dan bagaimana, bagaimana yang lain bermunculan.
Hampir tengah malam ketika kami sampai ke rumah mas Enggo, posko mandiri. Orang hebat ini sangat ramah menceritakan kondisi masyarakat desa Butuh yang serba kekurangan kehilangan mata pencarian. Kami minta maaf karena tidak semua pesanan bisa kami dapatkan. Dan kami juga minta maaf karena tidak bisa lama, kami tidak katakan alasan sesungguhnya karena kami merasa ngeri.
Dalam perjalanan turun kami merasa sedikit lebih lega, sempat memperhatikan masih ada petani yang menggarap sawah di malam selarut ini. Ada beberapa lelaki yang bergerombol mungkin mereka ronda. Beberapa rumah sudah kelihatan ada penghuninya tetapi sebagian lagi masih gelap mungkin masih di pengungsian. Perjalanan turun di pandu oleh salah satu anak muda tadi sampai jalan raya, barulah kami bernafas lega. Kami mulai bisa mentertawakan “kepengecutan” kami tadi.
Sampai di hotel jam 01.00 dinihari.
Salam capek,

Merapi 2

Sisa desa Ngancar.
Minggu pagi jam 5.30 kami sudah bersiap untuk mengantar mereka menengok kampung halaman. Para wanita sedang sibuk menyiapkan sarapan berupa ubi jalar goreng dan tempe goreng. Kami makan sama-sama sambil mengajak mereka bergurau. Inilah sarapan terindah dalam hidupku. Tidak pernah kurasakan ubi dan tempe goreng selezat itu sebelumnya.
Kami bersiap naik merapi, ada beberapa mobil, salah satunya adalah mobil bak, mungkin milik relawan. Hanya para bapak yang naik, para ibu masih belum mampu menata diri melihat bekas rumah mereka. Beriringan kami naik, pagi ini indah, puncak merapi mengintip sedikit dari sela kabut. Disepanjang jalan tidak kelihatan sama sekali bekas bencana, para petani sudah menggarap sawahnya yang ijo royo-royo, dan pasar juga sudah di penuhi pedagang. Saya pikir perekonomian sudah mulai bangkit, meski status merapi masih tinggi. Setengah jam perjalanan kami mulai masuk ke jalan tikus, bekas pohon tumbang dan patah, daun kering mulai terlihat, sampai batas akhir mobil bisa masuk. Kami turun dan memasang masker karena bau busuk mulai menyengat. Kami berjalan sekitar 50 meter dan ya Tuhan, didepan kami hamparan pasir dan batu besar berserakan. Asap mengepul masih kelihatan nyata di sana sini, pasir dibawah kami masih terasa panas. Inikah sebabnya mereka minta kami antar pagi-pagi sekali supaya pasir tidak terlalu panas.
Kami berjalan terus di pandu Pak Wardi, karena apabila salah langkah kaki kami bisa terbenam kedalam pasir panas sampai selutut. Lelaki separuh baya ini matanya berkaca-kaca, menunjukan bekas rumahnya berdiri, ditandai dengan pohon manggis kehitaman yang dulunya berada di dekat kandang pojok pekarangan. Menurut perkiraan, diukur dari rumah di pinggir yang masih setengah berdiri ketebalan lahar tidak kurang dari 3 meter. Namun ketebalan ini tidak merata, ada sebagian yang lebih tipis dari pada itu.
Dari tempat kami berdiri kearah utara, lautan pasir kelihatan putih berawal dari puncak merapi lurus kebawah seperti jalan tol. Merapi hanya nampak sebentar kemudian kembali bersembunyi di balik kabut, mungkin malu karena telah menyebarkan begitu banyak penderitaan. Teman-teman pengungsi mengais apa saja yang mungkin masih bisa terselamatkan, ada bekas tabung gas 3 kiloan yang hangus, bekas sepeda motor yang kerangkanya kehitaman. Mas Miono menunjukan satu jarit ( kain panjang ) dan coklat beng-beng berdebu yang masih utuh dari atas lemari rumahnya yang terbenam separo. Kok bisa ya jarit dan beng beng tidak hancur. Aneh…tapi kok nyata. Bahkan ada sapi yang hangus terbakar di permukaan pasir, masih mengepul dan menyuarkan bau busuk tidak ketulungan, ada beberapa sapi lagi yang tersampir di kandang setengah terbenam.
Beberapa jam kami disana menunggu teman-teman pengungsi sampai akhirnya kami turun sekitar jam 9.00 untuk membagikan cash kepada masing2 kepala keluarga, karena ternyata mereka sangat membutuhkan cash agar bisa mulai bergerak.
Kami kembali ke Jakarta jam 12.30, lewat utara karena kami kurang pede lewat selatan, alhasil macet di Indramayu 3 jam, sampai dirumah Cibubur jam 05.30. Padahal harus kerja jam 8. Tetapi kami tidak merasa lelah, karena pengalaman yang kami alami, tertanam dalam di sanubari sebagai kenangan abadi.
Salam kelelahan,

Merapi 1



Nov 20.2010 – Jogya. Foto Merapi sebelum murka, indahnya bukan alang kepalang..


Dusun Ngancar, Kel Nglagah Harjo, Kec Cangkringan adalah sebuah desa makmur dibelah oleh sebuah jalan beraspal licin sampai di kaki Merapi. Pak Wardi misalnya, dia punya 3 rumah besar dan kandang sapi , 2 diantaranya sedang hamil tua. Atau Pak Miono, perias penganten yang cukup nge top, sehingga juga punya 3 rumah, untuk usaha salon dan perias, untuk penyewaan alat pesta, dan satu lagi untuk berjualan kelontong. Pak Tjipto bertutur, baru saja membuat satu rumah baru untuk anak lelakinya yang sudah minta kawin.
Itu cerita sebulan yang lalu. Kini mereka berdesakan tinggal di posko darurat, di kantor desa Kraguman, Klaten sebanyak 23 KK , total warga 68 termasuk 14 anak2 usia sekolah. Wajah kuyu mereka sudah menceritakan segalanya. Dusun mereka sudah tidak ada lagi, benar-benar lenyap tertutup lahar yang menenggelamkan dusun mereka, bersama seluruh harta benda dan harapan masa depan , punah. Yang tersisa adalah hamparan pasir sejauh mata memandang, berbau menyengat yang masih mengepulkan asap disana-sini
Mbak Ngatiyem berusia sedikit diatas 30 an, dia hanya duduk diam sambil sesekali mengusap kepala anak balitanya. Saat aku dekati, airmatanya mengalir deras, tanpa diminta, ditengah sedan ini ceritanya :
“ Bojo kulo kalih anak kulo jaler niku ronda, lha kabare wonten tiyang jahat ingkang bade mendhet sapi. Anak kulo niku umure 16 th, karepe ngancani bapake” sampai disini dia tidak bisa meneruskan ceritanya, tersedu-sedan. Ternyata suami dan anaknya tersapu lahar, tidak di ketemukan jenazahnya sampai sekarang. Yang tersisa hanya anak balitanya. Ya Tuhan….
Lain lagi dengan mbak Ponco, nenek cantik ini begitu pasrah menerima kenyataan bahwa suami dan menantunya lenyap tersapu lahar setinggi 3 meter
“ Tiyang niku namung sadermi nglampahi, pepesthenipun kados mekaten, bade dospundi malih. Kulo naming pasrah kaliyan Gusti ingkang maringi gesang.”. Tapi tetap saja matanya menerawang kosong
Ada beberapa puluh KK dari desa Nglagah Harjo yang tersapu lahar, mengungsi tercerai berai. Mereka pengungsi “sempalan” yang berada di posko Klaten, sisanya berada di posko besar, seperti Maguwo. Sebenarnya di posko terdaftar seperti ini, kebutuhan sembako lumayan terpenuhi, cuma kebutuhan untuk sayur dan lauk yang amat terbatas.
“ Sebaiknya di kasih kasur, bantal dan keperluan anak2 sekolah. Ketingalipun bade dangu wonten mriki, tiyang boten saged wangsul ” Kata pak Wardi
Demikian permintaan mereka ketika kami tanya apa yang mereka perlukan. Kami memang tidak membawa barang dari Jkt, kami ingin memberi mereka yang memang mereka butuhkan. Sehari penuh kami mencarikan barang yang mereka butuhkan termasuk kompor gas dan container plastic, agar mereka bisa menyimpan harta tersisa yang tak seberapa. Membawa anak-anak ke toko alat tulis dan keperluan sekolah. Mengajak mereka sekedar berbicara ngalor-ngidul agar sedikit terhibur.
“ Aku tas pink sing gambare prinses “ kata Ninin, 5 tahun, senyumnya mengembang sambil memilih tas sekolah yang langsung di pasang di punggungnya. Bagaimana airmata tidak jatuh?
“ Kulo nyuwun sepatu sing boten cemeng nggih bu?’ Pariono, anak SMK yang punya celana sekolah tapi tidak punya baju karena tidak sempat di selamatkan. Celoteh anak-anak memilih kebutuhan sendiri di toko, semoga mereka lupa sebentar dengan deritanya.
Rasanya mereka butuh pemulihan trauma, terutama bagi anak-anak. Sementara ini Mas Mit dan Mbak Dewi, sahabat2 kami, sedang berupaya kearah itu.
Hari itu kami kembali ke hotel sudah sore, membawa janji akan mengantar mereka menengok bekas rumahnya besok pagi jam 05.30.


Salam prihatin,

Tirta Amerta - air keabadian

Syahdan, dewa Wisnu pulang dari meeting dengan para dewa di kahyangan, perintah dari dewa Syiwa sudah jelas, agar Wisnu menyelamatkan tirta amerta yang saat ini sedang di perebutkan oleh para pendekar, para raja2 sakti maupun para denawa dibawah pimpinan Bethoro Kolo. Tirta Amerta adalah air keabadian, bagi yang bisa meminumnya akan menjadi abadi. Sebenarnya tirta ini sudah di sembunyikan di dasar segoro susu yang di jaga oleh dewa berujud naga, yakni Antaboga, namun para dewa khawatir apabila tirta ini jatuh ketangan para denawa, sebagai simbul kejahatan dan keangkaramurkaan, maka dunia akan musnah di telan kegelapan.
Dewa Wisnu memeras otak mengubungi teman2 nya di face book , membuka google mencari cara tepat untuk mengambil tirta tersebut dan membawanya kembali ke kahyangan.
Akhirnya di bantu oleh satu tim dewa kroco, Wisnu memerintahkan seekor kura2 besar untuk mengaduk segoro susu, agar Antaboga muncul di permukaan. Tehnisnya, puncak gunung Merbabu dipotong, di tumpangkan di atas punggung kura2, diikat memakai tali yang berupa naga taksaka dan diputarlah kura2 tersebut oleh dewa kroco untuk mengaduk segoro.
Berita Dewa Wisnu mengaduk segoro susu, membuat bethoro Kolo segera meninggalkan medan perang dan bergabung dengan para dewa kroco ikut mengaduk segoro susu, dia bertugas memegang ekor kura2 yang sedang berputar seperti gangsing.
Dewa Antaboga yang sedang leyeh-leyeh, tiba2 di kejutkan oleh angin beliung yang memporak porandakan pesanggrahan bawah air tempatnya menjaga tirta amerta, serta merta guci tempat Tirta Amerta di simpan segera di ambil dan dengan kecepatan kilat Antaboga naik ke permukaan air. Untung tak dapat di raih, buntung tak dapat di tolak, ketika Antaboga mencungul kok ndilalah ya dibagian ekor kura2 tentu dengan sigap bethoro Kolo segera merebut guci dan serta merta meminumnya. Bethoro Wisnu yang terbang diatas awan memonitor keadaan segera melepaskan senjata cakra tepat mengenaia tenggorokan bethoro Kolo. Tenggorokan kebawah musnah menjadi jenazah, namun tenggorokan keatas tetap hidup abadi karena sempat meminum titra amerta meski hanya sampai di tenggorokan. Bersamaan dengan jatuhnya jenazah separo Kolo, Tirta amerta segera di bawa terbang kembali ke kampung kahyangan, tinggallah kepala bethoro Kolo keluyuran mencari mangsa.

Peninggalan atas peristiwa ini berupa arca yang dibuat sebelum masa Majapahit. Arca di ketemukan dalam penggalian arkeolog di kaki Gn Kawi. Pada arca ini ada lubang2 di puncak arca, yang dulunya mengalir air pemujaan.
Apabila kita pergi ke Musium Gajah, arca ini terletak di lobby masuk sebelah kanan kita.

Salam,

Jumat, 06 Agustus 2010

Tidak.. tidak...tidaaaakkkk

Ari product Citayam asli ( biasa diucapkan Citayem ) lugu ditambah emosian, gampang nangis.Pernah hanya karena di tilpun emaknya sakit, dia sudah bercucuran airmata. Dipekerjaan sebagai waiter di sebuah restoran bersahabat erat dengan Giman, asli Pacitan. Siang malam mereka bersama, artinya keduanya menginap di lantai atas restoran tersebut yang memang diperuntukan bagi karyawan yang tidak pulang. Gimanpun tidak kurang lugunya dari Ari, meski yang satu sudah kenal mall dari kecil dan yang satunya kenal wedus dari kecil, mereka punya persamaan mendalam soal keluguan.
Ari van Citayam sudah kepengin menikah, maklum usia sudah sangat cukup dan soal kebutuhan biologis tidak mengenal lugu dan non lugu kan? Ari kekeuh dengan pendirian bahwa tidak akan menikah dengan gadis kota karena menurutnya gadis kota sudah jarang yang masih suci.Maka ketika ada kesempatan berkenalan dengan seorang wanita tetangga Giman di kampung sono, langsung disambar. Wanita yang bernama mirip artis ini membuat Ari mabuk kepayang, apalagi foto yang dikirim via mms sangat menjanjikan. Senyum alim bak monalisa, rambut panjang ala Sunsilk, kerling mata serupa Dewi Persik. Siang malam hanya foto wanita itulah yang ada di benaknya dengan segala impian muluk. Setelah 6 berpacaran lewat media hp, saling mengirim foto diri, dan ngobrol tiap malam berjam-jam, Ari sudah bulat bertekad.
Berusaha minta ijin kepada atasan untuk libur 2 minggu demi menemui pujaan hati, namun ijin tidak bisa diperoleh.
Ari semakin gelisah, teman2 sekerja sudah mulai sebal karena Ari tidak melakukan tugasnya dengan baik , alhasil teman2 yang ketempuhan memperbaiki kesalahanya.
Suatu pagi yang cerah, Ari tidak kelihatan dari pagi buta, teman2 mengira dia pulang ke Citayam rindu ibunya. Restoran berjalan seperti biasa sampai sekitar jam 9 pagi sesaat sebelum restoran buka, ada tamu wanita yang mencari Ari. Salah satu karyawan wanita menemui sebentar dan terus masuk kerestoran bagian belakang dan tertawa ter pingkal-pingkal.Dia hanya menunjuk keluar sambil berkata tidak jelas; “ Ari.. Ari…pacar…” Teman2 nya maklum dan bergantian mengintip, keluar dan masuk lagi dengan ter pingkal-pingkal, hanya Giman yang segera tilpun Ari, yang saat itu ternyata sedang di Pulau Gadung dalam rangka menjemput kekasih hati. Tidak berapa lama Aripun datang dengan nafas memburu namun wajah cerah ceria, sampai ketika dia menatap langsung gadis impian, wajahnya berubah pias dan bibirnya gemetar, “tidak..tidak….tidak…” begitu berulang kali dia berbisik….. Dia terduduk didepan gadis itu dengan lemas, berkali-kali dia mendekap foto yang merasuki mimpinya setiap malam. Gadis itu berusaha meyakinkan Ari bahwa dirinya yang ada dalam foto itu, dan menuntut janji Ari untuk menikah karena dia sudah pamit kepada keluarganya untuk menikah di Jkt. Kathy, nama gadis itu, yang berwajah mirip pok Nori, setelah di desak akhirnya mengaku bahwa foto yang dikirim ke Ari adalah foto teman nya, dia juga mengaku sudah umur 32 janda beranak satu usia 15 tahun, dan nama aslinya bukanlah Kathy, tetapi Katijah. Teman2 nya berbalik dari tertawa menjadi sedih melihat Ari begitu terpukul. Meskipun samaran sudah terbongkar Katijah tetap menuntut Ari untuk “ bertanggung jawab” karena dia sudah jauh datang dari Pacitan ke Ibukota. Hanya atas dukungan teman2 nya akhirnya Ari bisa memulangkan Katijah ke kampungnya. Bagaimana dengan Giman ?. Dengan muka polos tidak berdosa hanya mengatakan : “ setahu saya dia dulu cakep, kok sekarang jelek sekali ya” Gedubrak……………………
Juli 2010

Kamis, 24 Juni 2010

Seliter yang (2) liter.

Judul diatas mungkin membuat bingung orang di luar Kismantoro, lha kismantoro iku pancen unik kok.

Kalau kita membeli beras di pasar desa Gesing, Klithik pokoke daerah Kismantoro lah , di protelon atau prapatan desa kadang berkumpul beberapa bakul beras menggelar pasar kaget di hari-hari pasaran, biasanya simbok bakul akan menakar dengan satuan literan atau beruk.
Kanjeng Yut lebih suka bertransaksi pakai literan, lebih pas katanya. Tetapi uniknya yang di sebut seliter sesungguhnya adalah 2 liter, dan itu terpampang sangat juelas di luar alat ukur tersebut. Tapi siapa yang peduli ?. sing penting penjual dan pembeli podo geleme.

“ Yo ben wae, wong wiwit ndisik yo wis ngono kuwi. Lha kae deloken yen ngganggo beruk, rak malah repot , iyo yen beruk kambil gede lha yen kambil gading terus piye ”.
Begitu selalu kilahnya kalau diprotes cucunya, si Galuh yang suka ngeyel. Benar juga ukuran kelapa kan tak bisa di standarisasi.
Soal ukuran sing sak karepe dhewe itu yo bikin perang dunia, " kae jupukno tali rapia 10 kilan " Waktu menerima tali yang tepat 10 kilan cucunya, tentu saja tidak cukup terlalu pendek. Salah siapa hayo..


Sekarang kita kenal satuan minyak bumi namanya barrel disingkat BBL, kenapa sih bukan BL saja? Bukankah “saudara2 nya ” seperti kilometer disingkat “KM” decimeter disingkat “DM” , centimeter sebagai “CM” ?.
Sejarah di mulai ketika minyak bumi mulai di temukan pada kisaran th 1860 an oleh Kolonel Drake , hasil produksi minyak mentah pada saat itu di tampung di tong, gentong kayu yang biasanya di peruntukan menyimpan ikan, gentong terpentin.
Tetapi karena ukuran tong kayu tersebut tidak sama, maka berangsur-angsur mulai di standarisasi di kalangan perminyakan, bahwa satu tong kayu atau disebut barrel berisi 40 gallon
Mulailah di kenal bahwa satu tong isinya 40 gallon, di tulis sebagai 1 ” BL” saja. Kemudian disadari bahwa minyak adalah benda yang mudah menguap, gentong acapkali juga bocor. Sehingga di capai kesepakatan baru agar tidak merugikan konsumen maka kedalam 40 galon minyak tadi masih di tambahkan 2 gallon minyak sebagai kompensasi.
Sejak itu sepakat 1 barrel hanya berisi 42 gallon.
Namun satuan barrel yg hanya berisi 40 gallonpun saat itu masih beredar, sehingga konsumen meminta jaminan isi 42 gallon per barrel. Gimana caranya ?. ternyata gampang, cukup mengambil cat berwarna biru, lantas di sepakati bahwa tong yang di cat biru adalah 42 gallon. Kemudian sejak itu “ Blue Barrel” mulai dikenal dengan singkatan “ BBL “.
Sekalipun tong-tong sekarang sudah berwarna merah kuning hijau dilangit yang biru, namun nama Blue Barrel tetap dipakai sampai kini.
1 gallon = 3.8 liter ( yen ora salah )

Salam,
sendang, Juni25.10

Minggu, 20 Juni 2010

Negoro mowo toto, deso mowo boso ( meksa)

Bahasa adalah alat komunikasi. Sebagus apapun sebuah bahasa jika tidak di pahami, terus kanggo opo?. Esensinya sebuah bahasa bisa dikatakan berhasil apabila di pahami oleh penggunanya, terlepas apabila bahasa itu di “cap” ndeso, kampungan, urakan lan sapanunggalane.
Lemah wutah getih, deso Gesing, Kismantoro punya bahasa yang “nyentrik” aku ra weruh apakah bahasa ini juga di pakai di daerah lain.
Akeh sing mung disingkat wae, upamane : wonten jadi enten, punopo jadi nopo, ora jadi ra, ojo jadi jo, wetan jadi etan, sampun dadi empun.

*· Arik – apabila di ucapkan tunggal tidak ada artinya, similar karo dong,deh,lho. “ ora eruh arik” maksudnya, aku tidak tahu lho. “ arik eram” maksudnya, bukan main.

*· Enjuh – padanan katanya, godag, jegos Artinya, bisa, capable. Godag lan jegos agak bernuansa negative. “ ngono wae kok ra godag”

*· Ndik ero – artinya, kiro-kiro, sesuatu yang tidak yakin

*·Nding/lin – artinya ora ono, biasanya dipakai untuk ungkapan gembira, contoh : nontonbalapan mlayu, kanggo menyemangati si pemain terus mbengok “ Ayo lin, terus sing banter” utowo “ Ayo nding, jo nganti kalah”…

*· Kirangan – ora ngerti

*· Waged – saged, biso, termasuk rodo alus.

Lan isih akeh maneh tunggale.

Aspriku di rumah asli soko Kismantoro, tepatnya deso Kalang, wetan kecamatan, nyabrang kali setithik. Dirumah dia tidak mau berbahasa selain jowo dialek Kismantoro. “ mboten sekeco nek matur ngangge boso Indonesia, mboten pantes”
Lha mbok ngomong karo wong asing, yo tetep nganggo boso Jowo. Ternyata sikap seperti itu membawa berkah tersendiri, saiki bapake Denok wis fasih boso jowo ala Kismantoro, sebabe yo margo dipekso aspriku iku mau.
Pernah suatu ketika aspriku ora masak sego, jare aspriku : Wos telas, kulo empun matur bapak dek wingi, bapak mendel mawon” Pakne Denok mlongo, o.. wos itu maksudnya beras????
Aku bebojoan karo pakne Denok puluhan tahun kalah karo aspri sing lagi 3 tahun wis berhasil mekso bojoku boso jowo.
Masalah timbul ketika kanjeng Yang Yut mireng sang mantu berkomunikasi dengan aspri memakai bahasa Kismantoronan, protes gak bisa dielak kan lagi. Miturut kanjeng Yang Yut, boso jawi ingkang saestu inggih puniko boso ala Surokarto Hadiningrat.....tobat dah.

Cbbr Jun 21.10

Sabtu, 19 Juni 2010

Adenium kecilku minta rumah baru

Adenium atau lebih dikenal dengan kamboja jepang adalah tanaman yang gampang sekali di rawat. Potong cabangnya, tancap ditanah, hiduplah dia, memberikan bunga semarak sepanjang musim.

Aku menanam kamboja ini dari bijinya, dan sekarang sudah mulai tumbuh sekitar 10 cm. Tentu saja media tempat sudah penuh sesak dan harus diganti dengan pot yang lebih besar. Kemarin Germi sudah kepasar membeli beberapa puluh pot kecil, kurasa cukuplah.

Mungkin ada yang belum pernah lihat buah kamboja?. Memang agak jarang kamboja berbuah, tetapi sekali berbuah bijinya banyak. Buahnya kecil panjang mirip buncis, tapi lebih besar dan lebih panjang. Memerlukan waktu beberapa bulan sampai buah ini masak di pohon. Bijinya berwarna putih dan mempunyai ekor yang bisa dipakai untuk terbang, jadi apabila buah sudah masak ditandai dengan retak2 di permukaan, silahkan segera diambil, kalau tidak buah akan berterbangan keudara.

Kalau bisa dari stek kenapa susah payah menanam dari biji?. Rahasianya adalah, kalau menanam dari biji bisa diperoleh bonggol yang indah


cibubur masih tgl 20 Juni 10

Tanggal 20 Juni 2010

Hari pertama belajar nge-blog. Tergoda dengan iming2 5 menit jadi, ning ternyata more then 20 minuto. Lha wong koneksi lelet tenan, yen pindah halaman bisa disambi makan nasi goreng atau bikin kopi. Barangkali juga flash model kuno ini sudah waktunya minta adik. Demikianlah akhirnya blog sederhana terlaksana, hanya sebagai perintang waktu bagi wanita biru, wanita yang sudah lewat masa merah...