Jumat, 10 Desember 2010

Merapi 1



Nov 20.2010 – Jogya. Foto Merapi sebelum murka, indahnya bukan alang kepalang..


Dusun Ngancar, Kel Nglagah Harjo, Kec Cangkringan adalah sebuah desa makmur dibelah oleh sebuah jalan beraspal licin sampai di kaki Merapi. Pak Wardi misalnya, dia punya 3 rumah besar dan kandang sapi , 2 diantaranya sedang hamil tua. Atau Pak Miono, perias penganten yang cukup nge top, sehingga juga punya 3 rumah, untuk usaha salon dan perias, untuk penyewaan alat pesta, dan satu lagi untuk berjualan kelontong. Pak Tjipto bertutur, baru saja membuat satu rumah baru untuk anak lelakinya yang sudah minta kawin.
Itu cerita sebulan yang lalu. Kini mereka berdesakan tinggal di posko darurat, di kantor desa Kraguman, Klaten sebanyak 23 KK , total warga 68 termasuk 14 anak2 usia sekolah. Wajah kuyu mereka sudah menceritakan segalanya. Dusun mereka sudah tidak ada lagi, benar-benar lenyap tertutup lahar yang menenggelamkan dusun mereka, bersama seluruh harta benda dan harapan masa depan , punah. Yang tersisa adalah hamparan pasir sejauh mata memandang, berbau menyengat yang masih mengepulkan asap disana-sini
Mbak Ngatiyem berusia sedikit diatas 30 an, dia hanya duduk diam sambil sesekali mengusap kepala anak balitanya. Saat aku dekati, airmatanya mengalir deras, tanpa diminta, ditengah sedan ini ceritanya :
“ Bojo kulo kalih anak kulo jaler niku ronda, lha kabare wonten tiyang jahat ingkang bade mendhet sapi. Anak kulo niku umure 16 th, karepe ngancani bapake” sampai disini dia tidak bisa meneruskan ceritanya, tersedu-sedan. Ternyata suami dan anaknya tersapu lahar, tidak di ketemukan jenazahnya sampai sekarang. Yang tersisa hanya anak balitanya. Ya Tuhan….
Lain lagi dengan mbak Ponco, nenek cantik ini begitu pasrah menerima kenyataan bahwa suami dan menantunya lenyap tersapu lahar setinggi 3 meter
“ Tiyang niku namung sadermi nglampahi, pepesthenipun kados mekaten, bade dospundi malih. Kulo naming pasrah kaliyan Gusti ingkang maringi gesang.”. Tapi tetap saja matanya menerawang kosong
Ada beberapa puluh KK dari desa Nglagah Harjo yang tersapu lahar, mengungsi tercerai berai. Mereka pengungsi “sempalan” yang berada di posko Klaten, sisanya berada di posko besar, seperti Maguwo. Sebenarnya di posko terdaftar seperti ini, kebutuhan sembako lumayan terpenuhi, cuma kebutuhan untuk sayur dan lauk yang amat terbatas.
“ Sebaiknya di kasih kasur, bantal dan keperluan anak2 sekolah. Ketingalipun bade dangu wonten mriki, tiyang boten saged wangsul ” Kata pak Wardi
Demikian permintaan mereka ketika kami tanya apa yang mereka perlukan. Kami memang tidak membawa barang dari Jkt, kami ingin memberi mereka yang memang mereka butuhkan. Sehari penuh kami mencarikan barang yang mereka butuhkan termasuk kompor gas dan container plastic, agar mereka bisa menyimpan harta tersisa yang tak seberapa. Membawa anak-anak ke toko alat tulis dan keperluan sekolah. Mengajak mereka sekedar berbicara ngalor-ngidul agar sedikit terhibur.
“ Aku tas pink sing gambare prinses “ kata Ninin, 5 tahun, senyumnya mengembang sambil memilih tas sekolah yang langsung di pasang di punggungnya. Bagaimana airmata tidak jatuh?
“ Kulo nyuwun sepatu sing boten cemeng nggih bu?’ Pariono, anak SMK yang punya celana sekolah tapi tidak punya baju karena tidak sempat di selamatkan. Celoteh anak-anak memilih kebutuhan sendiri di toko, semoga mereka lupa sebentar dengan deritanya.
Rasanya mereka butuh pemulihan trauma, terutama bagi anak-anak. Sementara ini Mas Mit dan Mbak Dewi, sahabat2 kami, sedang berupaya kearah itu.
Hari itu kami kembali ke hotel sudah sore, membawa janji akan mengantar mereka menengok bekas rumahnya besok pagi jam 05.30.


Salam prihatin,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar