Mas YI memberikan nama Fajar sebagai CP untuk posko di dusun Butuh kelurahan Babatan. Setelah berkutat dengan waktu yang tidak match, akhirnya di setujui habis mahgrib ketemuan di hotel kami. Jadi seperti di kejar mak Lampir sepulang dari Posko Kraguman, kami segera bersiap untuk bertemu dengan relawan ini. Rupanya Fajar masih belum turun dari posko karena menunggu mobil, yang dalam bayanganku adalah mobil bak untuk membawa sembako, karena logistic inilah yang dibutuhkan di desa ini. Sambil menunggu kami makan sekedarnya, karena masih merasa kerja belum tuntas. Apa mau di kata, Fajat sampai di Jogja sudah jam 21.00. Terpaksa dengan terburu-buru kami belanja sembako di Super Indo, di Jl Magelang karena hanya toko ini yang masih buka. Namanya super indo tetapi pelayanannya Indo banget. Baru belanja sebentar, sudah di usir sama satpam wanita karena sudah waktu tutup, meski kami berusaha menawar bahwa ini untuk kemanusiaan, tetap saja lampu langsung di matikan dan kami digiring ke kasir. Terpaksa bumbu dapur pesanan tidak sempat kami belikan.
Saatnya kami bertemu dengan Fajar didepan toko, kami kecelik karena ternyata dia dan ketiga teman adalah pemuda tanggung. Siapa sangka anak2 muda dengan tampilan “ begajulan” ini memilih jadi “relawan dadakan” dari pada bermalam mingguan di cafĂ©. Kecelik yang kedua ternyata dia tidak membawa mobil bak, tetapi starlet kecil. Terpaksa sembako kami muat di Inova kami dan bagasi mobil Fajar, sebagian di pangku anak2 muda hebat tadi. Sebenarnya kami tidak berencana untuk ikut naik ke merapi, sehubungan dengan janji kami untuk menjemput teman2 di posko pagi pagi. Apalagi badan manula ini sudah ingin istirahat.
Fajar memimpin di depan, berjalan dengan kecepatan sedang kearah Magelang. Langit bersih, bulan masih bulat berenang di lautan langit. Hampir sampai Muntilan aku nyaris terlelap, ketika mobil belok ke kanan. Fajar tidak bisa melaju lagi, berjalan pelan, barangkali takut kami kehilangan arah. Tembus kejalan besar lagi entah dimana, belok kanan, kiri, naik, begitu terus. Pemandangan di luar semakin horor, pohon salak yang roboh sejajar bumi, bekas pohon tumbang, daun nyiur yang tak mampu lagi melambai. Kabut turun, melayang layang tebal tipis bergantian. . Dibawah cahaya bulan, pemandangan ini membuat hati jadi ciut. Jalan semakin naik, dengan setengah gemetar aku call Fajar.
“ Masih jauh nggak mas”
“ Nggak bu, sebentar lagi”
Call lagi
“ Masih jauh nggak?”
“ Seebentaaar lagi”
Mungkin memang sebentar tapi bagi kami yang sudah tidak tenang, terasa berbentar-bentar. Segala imajinasi menggerayangi pikiran kami. Bagaimana kalau tiba2 si wedus penyebar maut iseng berjalan-jalan kebawah, kami pasti nggak bisa lari karena jalan cuma cukup 1 mobil gak bisa mutar. Bagaimana kalau gempa besar, dan bagaimana, bagaimana yang lain bermunculan.
Hampir tengah malam ketika kami sampai ke rumah mas Enggo, posko mandiri. Orang hebat ini sangat ramah menceritakan kondisi masyarakat desa Butuh yang serba kekurangan kehilangan mata pencarian. Kami minta maaf karena tidak semua pesanan bisa kami dapatkan. Dan kami juga minta maaf karena tidak bisa lama, kami tidak katakan alasan sesungguhnya karena kami merasa ngeri.
Dalam perjalanan turun kami merasa sedikit lebih lega, sempat memperhatikan masih ada petani yang menggarap sawah di malam selarut ini. Ada beberapa lelaki yang bergerombol mungkin mereka ronda. Beberapa rumah sudah kelihatan ada penghuninya tetapi sebagian lagi masih gelap mungkin masih di pengungsian. Perjalanan turun di pandu oleh salah satu anak muda tadi sampai jalan raya, barulah kami bernafas lega. Kami mulai bisa mentertawakan “kepengecutan” kami tadi.
Sampai di hotel jam 01.00 dinihari.
Saatnya kami bertemu dengan Fajar didepan toko, kami kecelik karena ternyata dia dan ketiga teman adalah pemuda tanggung. Siapa sangka anak2 muda dengan tampilan “ begajulan” ini memilih jadi “relawan dadakan” dari pada bermalam mingguan di cafĂ©. Kecelik yang kedua ternyata dia tidak membawa mobil bak, tetapi starlet kecil. Terpaksa sembako kami muat di Inova kami dan bagasi mobil Fajar, sebagian di pangku anak2 muda hebat tadi. Sebenarnya kami tidak berencana untuk ikut naik ke merapi, sehubungan dengan janji kami untuk menjemput teman2 di posko pagi pagi. Apalagi badan manula ini sudah ingin istirahat.
Fajar memimpin di depan, berjalan dengan kecepatan sedang kearah Magelang. Langit bersih, bulan masih bulat berenang di lautan langit. Hampir sampai Muntilan aku nyaris terlelap, ketika mobil belok ke kanan. Fajar tidak bisa melaju lagi, berjalan pelan, barangkali takut kami kehilangan arah. Tembus kejalan besar lagi entah dimana, belok kanan, kiri, naik, begitu terus. Pemandangan di luar semakin horor, pohon salak yang roboh sejajar bumi, bekas pohon tumbang, daun nyiur yang tak mampu lagi melambai. Kabut turun, melayang layang tebal tipis bergantian. . Dibawah cahaya bulan, pemandangan ini membuat hati jadi ciut. Jalan semakin naik, dengan setengah gemetar aku call Fajar.
“ Masih jauh nggak mas”
“ Nggak bu, sebentar lagi”
Call lagi
“ Masih jauh nggak?”
“ Seebentaaar lagi”
Mungkin memang sebentar tapi bagi kami yang sudah tidak tenang, terasa berbentar-bentar. Segala imajinasi menggerayangi pikiran kami. Bagaimana kalau tiba2 si wedus penyebar maut iseng berjalan-jalan kebawah, kami pasti nggak bisa lari karena jalan cuma cukup 1 mobil gak bisa mutar. Bagaimana kalau gempa besar, dan bagaimana, bagaimana yang lain bermunculan.
Hampir tengah malam ketika kami sampai ke rumah mas Enggo, posko mandiri. Orang hebat ini sangat ramah menceritakan kondisi masyarakat desa Butuh yang serba kekurangan kehilangan mata pencarian. Kami minta maaf karena tidak semua pesanan bisa kami dapatkan. Dan kami juga minta maaf karena tidak bisa lama, kami tidak katakan alasan sesungguhnya karena kami merasa ngeri.
Dalam perjalanan turun kami merasa sedikit lebih lega, sempat memperhatikan masih ada petani yang menggarap sawah di malam selarut ini. Ada beberapa lelaki yang bergerombol mungkin mereka ronda. Beberapa rumah sudah kelihatan ada penghuninya tetapi sebagian lagi masih gelap mungkin masih di pengungsian. Perjalanan turun di pandu oleh salah satu anak muda tadi sampai jalan raya, barulah kami bernafas lega. Kami mulai bisa mentertawakan “kepengecutan” kami tadi.
Sampai di hotel jam 01.00 dinihari.
Salam capek,
Untung wedhusnya lagi anteng, soalnya sudah kenyang.
BalasHapus