Hari pertama puasa, kerja seperti biasa, sibuk sepeerti biasa. Hari ini kepingin pulang on time, pengin buka bersama cucu2 dirumah. Apa sih yang lebih membahagiakan kecuali berbuka bersama cucu2 kesayangan, tarawih bersama, Insya Alloh.
Si Bungsu hari ini berangkat ke Manila di gondol suaminya yang pindah kerja di sana. Selamat jalan sayang, take care, baik-baiklah di negara orang. Doa kami besertamu.
Salam,
Minggu, 31 Juli 2011
Sabtu, 30 Juli 2011
Mendung
Menerima berita dari sepupu di Madiun, berita keluarga memprihatinkan.
Keponakan dari sepupu, J, sakit parah terkena cancer, getah bening katanya.
Keponakan dari sepupu, remaja tanggung, terkena Hydrocepalus, kondisi parah. Padahal kakak nya juga ada indikasi cancer payudara.
Suami keponakan sepupu, kecelakaan nabrak pohon asem, kabarnya tangan nya patah.
Suami sepupu di Njeruk, meninggal dunia mendadak, padahal siangnya masih segar bugar.
Ya Alloh, Pemegang Segala Keputusan, hanya Engkau yang berhak memberi sakit dan memberikan sembuh. Ampunilah dosa2 saudaraku yang terkena musibah, karuniamu kami mohon untuk kesembuhan nya. Berikanlah kesabaran yang tak terbatas bagi keluarga yang merawatnya. Amin, ya Robbal Alamin.
Salam sedih,
Jumat, 29 Juli 2011
Cepet sembuh sayang
Cucu ke 2 dan ke 4, B dan Ken sedang sakit sudah 3 hari tidak sekolah. Ya Alloh, mohon kesembuhan untuk mereka, Engkau yang memberikan penyakit, hanya kepadaMU kami memohon pertolongan. Amin.
Salam,
Salam,
Nuning dan motor baru
Nuning adalah satu2nya gadis karyawan di warung Laguna, paling cantik dong, emang benar. Gadis berusia 19 tahun ini trampil dan terpercaya. Dia kasir merangkap mandor di warung ini.
Hari-hari kemarin dia uring-uringan, marah terus pembawaanya. Apa pasal?. Oalah rupanya sedang perang dingin dengan emaknya, karena Nuning ingin memecah tabungan untuk beli motor, emaknya tidak setuju kelihatanya uang mau dipakai untuk memperbaiki rumah. Emaknya bekerja di rumahku sebagai aspri, dah lama sih sekitar 4 tahunan lah. Senjata terakhir si anak : " Pokoke bodo aku ra mulih mak, nek ra entuk tuku motor" Nah lho, si emak jadi blingsatan, setelah beberapa hari berfikir dan di provokasi oleh banyak pihak, akhirnya gencatan senjata, si emak mengalah, toh Nuning membeli pakai uang sendiri......
Aman....... konsentrasi si emak yang sempat terganggu kini kembali normal, masakan dah enak, dah mulai ketawa-ketiwi lagi......
Salam,
" tenan lho, ojo mati yen durung mbejaji lan murakabi"
Nyenyes, bukan oblong kosong
Hari ke 3 - waktunya pulang.
Sudah diatur sejak kemarin, bahwa pagi ini jadwal dimulai jam06.00. Pertama mengambil kue 8 jam dan mastuba ke pasar Cindai, terus ke pasar ilir 26 mencari sarapan mie celor ( bukan telor lho ya, ini bukan salah tulis). Diwarung sederhana ini sudah banyak pembeli di pagi cerah. mie bulat, taoge, irisan udang, telor rebus di iris, berkuah santan ( atau susu ya ), rasa gurih, pedas, manis, pokoknya rasanya rame deh. Teman saya bilang : "Mie celor bikin neg, terlalu bersantan." buat saya sih mie celor sejuta rasanya....... Sesungguhnya celor artinya apa ya?. Ternyata celor artinya celup sebentar. ealah......
Siapa bilang cuma Jogja yang punya Dagadu si pabrik kata2? Ada nyenyes yang bukan oblong kosong. Sebelum pulang menyempatkan mampir di konter Nyenyes, cari oblong buat para cucu. Kwalitas lumayan, kata2 jenaka bertebaran di kaos pajang, harga 75,000 kayanya pantas lah, sayang tidak menerima credit card atau ATM, repot juga untukku yang jarang punya uang banyak di dompet.
Seperti wajib, dari Palembang kudu bawa oleh-oleh mpek empek, mampir sebentar di gerai crupal, dan siap ke bandara. Tahu tidak, bagi orang Palembang, sarapan pagi sepiring mpek empek adalah hal biasa, cuka asam sama sekali bukan persoalan bagi mereka. Makanan ini sudah "terlanjur" menjadi trade mark pemutar roda ekonomi yang menakjubkan.
Sudah diduga, kelebihan bagasi 30 kg, di konter Garuda hanya untuk chek in, membayar airport tax di konter lain, membayar kelebihan bagasi di konter lain lagi, duh.. repotnya karena harus menenteng 2 bungkusan panjang dan berat - si zaenal songket............
Selamat tinggal Palembang, terimakasih kepada kawan-kawan, Bobby, Pak Robby, kawan2 dari Pertamina Plaju Mas Ferry cs, Ibu Ros, Lis, yang membuat perjalanan ini sungguh berkesan, terimakasih Lupi, sopir Palembang asli tapi palsu yang setia mengantar kemana-mana.
Salam,
"mari kita berarti dulu, baru mati"
Kamis, 28 Juli 2011
Mendulang emas di negeri Svarnadwipa
Masih hari ke 2-
Pusat songket Zainal ini juga punya autlet di Jakarta, sempat melihat proses pembuatan di bawah rumah panggung. Mungkin tempat ini dulunya rawa, masuk ruangan harus penuh hormat, menunduk dalam-dalam, karena kalau tidak kepala kepentok lantai rumah. Sekitar 50 wanita penenun dengan asyik tangan trampilnya menari-nari menarik, melempar, mencungkil, menyambung, wuih... takjub. Selembar kain songket luar biasa indah motif baki perak , sama dengan 5 bulan tetesan keringat penenun. Pantas harganya juga pantastik....
Mudah-mudahan upah para penenun ini juga pantas-tik. Konon songket Zaenal mematok harga tinggi karena menang di desain dan mutu.
Tidak jauh dari tempat songket Zaenal, kami mampir lagi di songket Cek Ipah, juga bagus-bagus, tapi memang benar tidak semenarik Zaenal. Ngobrol sejenak dengan empunya ternyata Cek Ipah adalah Ibunya Zaenal, sudah meninggal sekarang di lanjutkan oleh anaknya yang masih kakak Zaenal. Rupanya sekeluarga berdarah songket, hebat..
Hari menjelang sore, petualangan berlanjut menuju benteng kuto besak, terletak pas di sebelah Jembatan Ampera. Kami turun sejenak, melihat resto perahu yang sedang tambat, dan beberapa pedagang yang bersiap-siap. Agak jauh ditengah ada beberapa perahu dengan generator kecil dan para penyelam keluar masuk perahu, lagi ngapain mereka itu ya?
" Kemarin Rusli dapat durian runtuh, hampir 1m ditangan" celetuk pedagang teh botol yang melihat aku terpana dengan para penyelam itu.
" Dapat emas sebesar gini " sambil mengacungkan tinjunya.
Oh, jadi mereka itu menyelam berburu emas, katanya banyak emas kuno yang berada di dasar sungai, bisa benbentuk coin maupun benda-benda kuno. Mungkinkah kapal dagang tenggelam di jaman Sriwijaya, menganggkut emas dari negeri Svarnadwipa?.
Salam,
"bener deh, jangan mati sebelum berarti"
Selasa, 26 Juli 2011
Kue 8 jam
Hari ke 2-
Menyelesaikan beberapa document sebelum petualangan di lanjutkan.
Salam,
Sejak berangkat Pakne Dhenok dah pesen kue 8 jam, karena kebetulan baru dibahas di tivi. Supir yang ngaku Palembang palsu tentu saja tidak bisa memberikan informasi, reseption di hotel juga tidak tahu, wong dia anak Jambi. Untung isteri mas Ferry tadi malam memberikan informasi, bahkan memberikan sedikit tip masalah kue ini.
Pagi-pagi dipasar Cindai, masuk kelorong pasar yang penuh dengan bakul mpek2 mentah , segala rupa jenis crupal, tekwan basah dan kering, serta kios kue - kue seakan tak habis-habisnya, penggemar crupal pasti akan tenggelam disini.
Inilah perkenalan pertama kue 8 jam, David, si penjual yang berkulit langsat, menceritakan proses pembuatan kue ini yang memang 8 jam lamanya, terdiri dari tepung, gula, dan banyak telor, diaduk tak boleh berhenti. Kwalitas telor menentukan harga, telor bebeklah yang paling mahal. Rp250,000./ per pak seukuran 20 x 20 cm. Kue berwarna kecoklatan dengen tekstur lembut, rasanya ?. Entahlah, karena aku tidak mencoba.
Aku pesan satu kue 8 jam dan kue mastuba untuk di bawa pulang besok. Kue mastuba juga kue kuno berbahan sama dengan kue 8 jam, bedanya di panggang selama 4 jam, berwarna lebih menarik, kuning ke coklatan. Untukmu pakne Dhenok kupersembahkan......
Ke Palembang masa nggak ke situs Sriwijaya?. Aneh rasanya. Nah, yang ini aku punya guide istimewa. Teman lama saya yang memang asli Palembang siap berangkat, selamat tinggal supir palembang asli tapi palsu.
Diawali dengan makan siang bersama Kak Ros dan Ibu Lis, di rumah makan patin terkenal " Ibu Oca" semangkok patin rasa asam pedas, segar sumyah, nyus.. rasanya, ditutup dengan desert srikaya, manis gurih.
Restoran ini selalu penuh meskipun sudah di tambah beberapa ruangan, tak heran karena kemudian aku baru tahu bahwa restoran ini satu dari tujuan wisata kuliner di Palembang.
Kak Ros dan Ibu Lis kembali kekantornya, aku mulai dengan tujuan ke situs Sriwijaya yang tersisa. Teman saya mengemudikan mobil dengan halus sambil memberikan keternagan temapt-tempat yang kami lewati. Bahwa daerah yang kami lewati adalah bernama Paelmbang Ilir sedangkan daerah di seberang sungai Musi disebut Ulu, Bahwa masih banyak sekali rumah-rumah panggung yang di pertahankan sampai sekarang Rumah-rumah Barri ( kuno) masih nampak di sana sini,
Situs Sriwijaya tak terlalu berkesan, untuk ku paling tidak, hanya ada bekas benteng dan aliran sungai buatan yang tak telalu terpelihara. Nampak ada restorasi pembangunan pintu gerbang yang belum sepenuhnya jadi.
Perjalanan lanjut menyususri tepian Musi, sampai ke perajin songket legendaris " Zainal ". runa gdepan penuh dengan oranmen dan fotho dengan para pejabat tinggi, Laura Bush, Ibu Megawati, Ibu Ani dan masih banyak lagi, termasuk piala dan penghargaan.
" harus berarti dulu, baru bisa mati "
Jumat, 22 Juli 2011
Jembatan Ampera
Ada relasi di kantor mengatakan bahwa Palembang tidak banyak yang bisa di lihat dan di makan, selain duku, durian dan pastinya empek-empek. Ah masa iya sih.
Hari ke 1 - tiba di hotel Sahid jam 10.30 lusuh dan sedikit lelah, karena berangkat dari rumah harus pagi sekali menghindari macet otw ke bandara Sukarta. Kepingin mandi dan ganti baju. Senyum manis mbak resepsion :" maaf bu, kamarnya belum siap, nanti baru jam 14.00 ibu baru bisa masuk, orangnya belum chek out" waduh ... kesan pertama sudah kurang menggoda nih.
Aku contact client untuk makan siang on their choice, eh mereka milihnya di Dapur Sunda, tadinya aku mengharap makan di resto khas Palembang. Client is the raja, so be it.
Habis makan meneruskan perjalanan ke Plaju, ke kantor client. Jembatan Ampera kami lewati, kesan biasa saja. Kembali hotel sudah jam 17.00, untung kamar sudah kosong.
Kamar mayan, tapi lho kok handuknya kumuh, lho kok kran bocor, lho kok gak ada tempat sampah, lho gak ada air mineral compliment. kesan kedua masih tak ada goda.
Habis mahrib bersiap ketemu client lain di Arya Duta. sms :" kalau bisa tolong titip belikan mpek2 embol yang disamping hotel ibu, aku mau bawa pulang jkt nih ". Aku buka jendela hotel, dan nah tuh dia mpek2 embol, waduh tapi kok dah mau tutup, kelihatan enciknya dah nutup pager besi.. Aku call supir dibawah untuk lari ke warung dan minta di bungkuskan mpek seperti titipan. Selamat, masih ada sisa meski tinggal sak uprit.
Dinner di Arya Duta selesai jam 09.00. sms : " Ibu kami tunggu di river side resto, depan benteng kuto besak"
Supir ku ngaku orang asli Palembang, tapi kok nggak ngerti jalan, untuk ke Restoran Riverside, mutar 3 x baru ketemu. ampyunn..
Latar belakang Jembatan Ampera berpendar oleh lampu indah, didepan benteng kuto besak riuh dengan banyak pengunjung bersantai ria, bercampur dengan penjual dan penjaja. Padahal bukan malam libur.
Bagaimanapun Jembatan Ampera lebih indah dilihat malam hari dibanding siang, itu kataku.
Hampir tengah malam baru kembali ke hotel, mission accomplish, kami tidak jadi ke Lahat besok, sudah bisa di settle disini. Good nite, sleep well.
Salam,
Jumat, 15 Juli 2011
Membantu boss
Baru selesai membantu boss menimbang mie mentah, mayan pegel di tangan. Boss ku dirumah tuh handle sendiri rumah makan nya di daerah Jati Waringin. Meski hampir keseluruhan kegiatan di laksanakan di sana, kadang-kadang masih membawa PR kerumah. Aku berusaha tidak terlalu mencampuri usaha ini, kecuali masalah pajak dan audit. Kata orang kapiten harus cuma satu, kalau ada kapiten dua nanti kapalnya bisa oleng.
Tujuan membuka rumah makan itu dulunya sederhana. Pertama kami beli tempat di pinggir jalan Jatiwaringin, waktu itu masih agak murah, kami bikin 3 lantai. Lantai 1 untuk rumah makan, lantai 2 untuk kantor anakku mbarep, lantai 3 untk mess karyawan. Kenapa memilih jualan makanan, lha wong rencananya nanti kalau sudah tua dan tidak ada penghasilan lagi bisa numpang makan di warung je .. hiks....hiks.. kuno sekali ya. Anak2 suka mentertawakan ide brilian ini.
Salam,
Tujuan membuka rumah makan itu dulunya sederhana. Pertama kami beli tempat di pinggir jalan Jatiwaringin, waktu itu masih agak murah, kami bikin 3 lantai. Lantai 1 untuk rumah makan, lantai 2 untuk kantor anakku mbarep, lantai 3 untk mess karyawan. Kenapa memilih jualan makanan, lha wong rencananya nanti kalau sudah tua dan tidak ada penghasilan lagi bisa numpang makan di warung je .. hiks....hiks.. kuno sekali ya. Anak2 suka mentertawakan ide brilian ini.
Salam,
Sabtu, 09 Juli 2011
Mang Saidin emang joss
Pertama kali di refleksi rasanya horor. Gimana nggak, lihat peralatan saja sudah senewen, kayu bergerigi dalam beberapa ukuran, ada yang seperti ulegan sambal, panjang seperti pensil berujung tumpul. Telapak kaki di pencet, ditusuk, di uleg , 3 hari baru hilang njaremnya. Cukup lama saya jothakan sama refleksi ini.
Sampai seorang teman menunjukan refleksi gaya baru di mall yang jauh dari kesan seram, reflektor rapi ( kok rata-rata dari daerah Sumatra ya ), musik lembut, harum. Mereka mengandalkan ujung jempol dan buku jari untuk memijat, bahkan kita boleh memilih tingkat keras pijitannya. Liyer-liyer..
Beberapa bulan yang lalu saat spa disebuah salon dekat rumah, bertemulah dengan Mang Saidin si juru refleksi holistik. Coba sekali, lho kok enak... pijitan cukup keras tetapi pas di tempat yang seharusnya, kelihatanya dia menguasai betul. Sejak saat itu si mamang sudah masuk agenda bulanan.
Pagi tadi, badan batuk-pilek ini aku serahkan ke tangan mang Saidin van Cilacap untuk di overhoul. Sejak pijitan pertama aku sudah setengah terlena.. nikmat....
Mang Saidin memang joss.
Salam,
"Harus berarti dulu, baru boleh mati"
Kamis, 07 Juli 2011
Dalang yang CEO
Bosku itu pinter ndalang, malah sudah menerbitkan buku mengenai pewayangan, bisa di sebut wayang politik lah, karena lakon wayang disesuikan dengan kondisi politik. Beliau punya acara tetap ndalang di TVRI . Jadi ya kumplit lah, CEO sebagai sambilan, utamanya ya ndalang itu tadi.
Menurut aku this is inspiring, maksudnya untuk beliau yang sudah cukup sibuk mengurus beberapa perusahaan namun masih meluangkan waktu untuk seni dan budaya yang sebenarnya kurang polpuler karena sudah mulai di tinggalkan oleh kawula muda.
Bravo boss, maju terus...Salam,
"jangan mati sebelum berarti."
Musim liburan
Terang saja jalanan agak lengang karena anak sekolah memang sedang libur panjang hanya 40 menit dari rumah sudah sampai di kantor. Syiikk.. asyik..
Empat sekawan, cucu kesayangan, juga libur, beberapa hari di Cibubur kemudian pindah ke cikarang tempat kanjeng Budhe. Jadwal hari ini balik ke Cibubur.
Liburan ini ada yang spesial buat kanjeng Niek, karena cucu ke dua, B, namanya memang B, sudah mulai "agak" patuh sholat, walupun kalau subuh masih suka mlungker. Tinggal tunggu Mas L and Dik N yang masih agak malas.
Dik Ken, cucu ke 4 tahun ini masuk SD, wuahh bangganya bukan main, menghitung hari agar segera masuk sekolah dengan seragam keren putih merah.
Salam
"jangan mati sebelum berarti."
Empat sekawan, cucu kesayangan, juga libur, beberapa hari di Cibubur kemudian pindah ke cikarang tempat kanjeng Budhe. Jadwal hari ini balik ke Cibubur.
Liburan ini ada yang spesial buat kanjeng Niek, karena cucu ke dua, B, namanya memang B, sudah mulai "agak" patuh sholat, walupun kalau subuh masih suka mlungker. Tinggal tunggu Mas L and Dik N yang masih agak malas.
Dik Ken, cucu ke 4 tahun ini masuk SD, wuahh bangganya bukan main, menghitung hari agar segera masuk sekolah dengan seragam keren putih merah.
Salam
"jangan mati sebelum berarti."
Langganan:
Postingan (Atom)