Kamis, 28 Juli 2011

Mendulang emas di negeri Svarnadwipa

Masih hari ke 2-
Pusat songket Zainal ini juga punya autlet di Jakarta, sempat melihat proses pembuatan di bawah rumah panggung. Mungkin tempat ini dulunya rawa, masuk ruangan harus penuh hormat, menunduk dalam-dalam, karena kalau tidak kepala kepentok lantai rumah. Sekitar 50 wanita penenun dengan asyik tangan trampilnya menari-nari  menarik, melempar, mencungkil, menyambung, wuih... takjub. Selembar kain songket luar biasa indah motif baki perak , sama dengan  5 bulan tetesan keringat penenun. Pantas harganya juga pantastik....
Mudah-mudahan upah para penenun ini juga pantas-tik. Konon songket Zaenal mematok harga tinggi karena menang di desain dan mutu.
Tidak jauh dari tempat songket Zaenal, kami mampir lagi di songket Cek Ipah, juga bagus-bagus, tapi memang benar tidak semenarik Zaenal. Ngobrol sejenak dengan empunya ternyata Cek Ipah adalah Ibunya Zaenal, sudah meninggal sekarang di lanjutkan oleh anaknya yang masih kakak Zaenal. Rupanya sekeluarga berdarah songket, hebat..
Hari menjelang sore, petualangan berlanjut menuju benteng kuto besak, terletak pas di sebelah Jembatan Ampera. Kami turun sejenak, melihat resto perahu yang sedang tambat, dan beberapa pedagang yang bersiap-siap. Agak jauh ditengah ada beberapa perahu dengan generator kecil dan para penyelam keluar masuk perahu, lagi ngapain mereka itu ya?
" Kemarin Rusli dapat durian runtuh, hampir 1m ditangan"  celetuk pedagang teh botol yang melihat aku terpana dengan para penyelam itu.
" Dapat emas sebesar gini " sambil mengacungkan tinjunya.
Oh, jadi mereka itu menyelam berburu emas, katanya banyak emas kuno yang berada di dasar sungai, bisa benbentuk coin maupun benda-benda kuno. Mungkinkah kapal dagang tenggelam di jaman Sriwijaya, menganggkut emas dari negeri Svarnadwipa?.  

Salam,

"bener deh, jangan mati sebelum berarti"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar