Jumat, 10 Desember 2010

Merapi 3

Mas YI memberikan nama Fajar sebagai CP untuk posko di dusun Butuh kelurahan Babatan. Setelah berkutat dengan waktu yang tidak match, akhirnya di setujui habis mahgrib ketemuan di hotel kami. Jadi seperti di kejar mak Lampir sepulang dari Posko Kraguman, kami segera bersiap untuk bertemu dengan relawan ini. Rupanya Fajar masih belum turun dari posko karena menunggu mobil, yang dalam bayanganku adalah mobil bak untuk membawa sembako, karena logistic inilah yang dibutuhkan di desa ini. Sambil menunggu kami makan sekedarnya, karena masih merasa kerja belum tuntas. Apa mau di kata, Fajat sampai di Jogja sudah jam 21.00. Terpaksa dengan terburu-buru kami belanja sembako di Super Indo, di Jl Magelang karena hanya toko ini yang masih buka. Namanya super indo tetapi pelayanannya Indo banget. Baru belanja sebentar, sudah di usir sama satpam wanita karena sudah waktu tutup, meski kami berusaha menawar bahwa ini untuk kemanusiaan, tetap saja lampu langsung di matikan dan kami digiring ke kasir. Terpaksa bumbu dapur pesanan tidak sempat kami belikan.
Saatnya kami bertemu dengan Fajar didepan toko, kami kecelik karena ternyata dia dan ketiga teman adalah pemuda tanggung. Siapa sangka anak2 muda dengan tampilan “ begajulan” ini memilih jadi “relawan dadakan” dari pada bermalam mingguan di cafĂ©. Kecelik yang kedua ternyata dia tidak membawa mobil bak, tetapi starlet kecil. Terpaksa sembako kami muat di Inova kami dan bagasi mobil Fajar, sebagian di pangku anak2 muda hebat tadi. Sebenarnya kami tidak berencana untuk ikut naik ke merapi, sehubungan dengan janji kami untuk menjemput teman2 di posko pagi pagi. Apalagi badan manula ini sudah ingin istirahat.
Fajar memimpin di depan, berjalan dengan kecepatan sedang kearah Magelang. Langit bersih, bulan masih bulat berenang di lautan langit. Hampir sampai Muntilan aku nyaris terlelap, ketika mobil belok ke kanan. Fajar tidak bisa melaju lagi, berjalan pelan, barangkali takut kami kehilangan arah. Tembus kejalan besar lagi entah dimana, belok kanan, kiri, naik, begitu terus. Pemandangan di luar semakin horor, pohon salak yang roboh sejajar bumi, bekas pohon tumbang, daun nyiur yang tak mampu lagi melambai. Kabut turun, melayang layang tebal tipis bergantian. . Dibawah cahaya bulan, pemandangan ini membuat hati jadi ciut. Jalan semakin naik, dengan setengah gemetar aku call Fajar.
“ Masih jauh nggak mas”
“ Nggak bu, sebentar lagi”
Call lagi
“ Masih jauh nggak?”
“ Seebentaaar lagi”
Mungkin memang sebentar tapi bagi kami yang sudah tidak tenang, terasa berbentar-bentar. Segala imajinasi menggerayangi pikiran kami. Bagaimana kalau tiba2 si wedus penyebar maut iseng berjalan-jalan kebawah, kami pasti nggak bisa lari karena jalan cuma cukup 1 mobil gak bisa mutar. Bagaimana kalau gempa besar, dan bagaimana, bagaimana yang lain bermunculan.
Hampir tengah malam ketika kami sampai ke rumah mas Enggo, posko mandiri. Orang hebat ini sangat ramah menceritakan kondisi masyarakat desa Butuh yang serba kekurangan kehilangan mata pencarian. Kami minta maaf karena tidak semua pesanan bisa kami dapatkan. Dan kami juga minta maaf karena tidak bisa lama, kami tidak katakan alasan sesungguhnya karena kami merasa ngeri.
Dalam perjalanan turun kami merasa sedikit lebih lega, sempat memperhatikan masih ada petani yang menggarap sawah di malam selarut ini. Ada beberapa lelaki yang bergerombol mungkin mereka ronda. Beberapa rumah sudah kelihatan ada penghuninya tetapi sebagian lagi masih gelap mungkin masih di pengungsian. Perjalanan turun di pandu oleh salah satu anak muda tadi sampai jalan raya, barulah kami bernafas lega. Kami mulai bisa mentertawakan “kepengecutan” kami tadi.
Sampai di hotel jam 01.00 dinihari.
Salam capek,

Merapi 2

Sisa desa Ngancar.
Minggu pagi jam 5.30 kami sudah bersiap untuk mengantar mereka menengok kampung halaman. Para wanita sedang sibuk menyiapkan sarapan berupa ubi jalar goreng dan tempe goreng. Kami makan sama-sama sambil mengajak mereka bergurau. Inilah sarapan terindah dalam hidupku. Tidak pernah kurasakan ubi dan tempe goreng selezat itu sebelumnya.
Kami bersiap naik merapi, ada beberapa mobil, salah satunya adalah mobil bak, mungkin milik relawan. Hanya para bapak yang naik, para ibu masih belum mampu menata diri melihat bekas rumah mereka. Beriringan kami naik, pagi ini indah, puncak merapi mengintip sedikit dari sela kabut. Disepanjang jalan tidak kelihatan sama sekali bekas bencana, para petani sudah menggarap sawahnya yang ijo royo-royo, dan pasar juga sudah di penuhi pedagang. Saya pikir perekonomian sudah mulai bangkit, meski status merapi masih tinggi. Setengah jam perjalanan kami mulai masuk ke jalan tikus, bekas pohon tumbang dan patah, daun kering mulai terlihat, sampai batas akhir mobil bisa masuk. Kami turun dan memasang masker karena bau busuk mulai menyengat. Kami berjalan sekitar 50 meter dan ya Tuhan, didepan kami hamparan pasir dan batu besar berserakan. Asap mengepul masih kelihatan nyata di sana sini, pasir dibawah kami masih terasa panas. Inikah sebabnya mereka minta kami antar pagi-pagi sekali supaya pasir tidak terlalu panas.
Kami berjalan terus di pandu Pak Wardi, karena apabila salah langkah kaki kami bisa terbenam kedalam pasir panas sampai selutut. Lelaki separuh baya ini matanya berkaca-kaca, menunjukan bekas rumahnya berdiri, ditandai dengan pohon manggis kehitaman yang dulunya berada di dekat kandang pojok pekarangan. Menurut perkiraan, diukur dari rumah di pinggir yang masih setengah berdiri ketebalan lahar tidak kurang dari 3 meter. Namun ketebalan ini tidak merata, ada sebagian yang lebih tipis dari pada itu.
Dari tempat kami berdiri kearah utara, lautan pasir kelihatan putih berawal dari puncak merapi lurus kebawah seperti jalan tol. Merapi hanya nampak sebentar kemudian kembali bersembunyi di balik kabut, mungkin malu karena telah menyebarkan begitu banyak penderitaan. Teman-teman pengungsi mengais apa saja yang mungkin masih bisa terselamatkan, ada bekas tabung gas 3 kiloan yang hangus, bekas sepeda motor yang kerangkanya kehitaman. Mas Miono menunjukan satu jarit ( kain panjang ) dan coklat beng-beng berdebu yang masih utuh dari atas lemari rumahnya yang terbenam separo. Kok bisa ya jarit dan beng beng tidak hancur. Aneh…tapi kok nyata. Bahkan ada sapi yang hangus terbakar di permukaan pasir, masih mengepul dan menyuarkan bau busuk tidak ketulungan, ada beberapa sapi lagi yang tersampir di kandang setengah terbenam.
Beberapa jam kami disana menunggu teman-teman pengungsi sampai akhirnya kami turun sekitar jam 9.00 untuk membagikan cash kepada masing2 kepala keluarga, karena ternyata mereka sangat membutuhkan cash agar bisa mulai bergerak.
Kami kembali ke Jakarta jam 12.30, lewat utara karena kami kurang pede lewat selatan, alhasil macet di Indramayu 3 jam, sampai dirumah Cibubur jam 05.30. Padahal harus kerja jam 8. Tetapi kami tidak merasa lelah, karena pengalaman yang kami alami, tertanam dalam di sanubari sebagai kenangan abadi.
Salam kelelahan,

Merapi 1



Nov 20.2010 – Jogya. Foto Merapi sebelum murka, indahnya bukan alang kepalang..


Dusun Ngancar, Kel Nglagah Harjo, Kec Cangkringan adalah sebuah desa makmur dibelah oleh sebuah jalan beraspal licin sampai di kaki Merapi. Pak Wardi misalnya, dia punya 3 rumah besar dan kandang sapi , 2 diantaranya sedang hamil tua. Atau Pak Miono, perias penganten yang cukup nge top, sehingga juga punya 3 rumah, untuk usaha salon dan perias, untuk penyewaan alat pesta, dan satu lagi untuk berjualan kelontong. Pak Tjipto bertutur, baru saja membuat satu rumah baru untuk anak lelakinya yang sudah minta kawin.
Itu cerita sebulan yang lalu. Kini mereka berdesakan tinggal di posko darurat, di kantor desa Kraguman, Klaten sebanyak 23 KK , total warga 68 termasuk 14 anak2 usia sekolah. Wajah kuyu mereka sudah menceritakan segalanya. Dusun mereka sudah tidak ada lagi, benar-benar lenyap tertutup lahar yang menenggelamkan dusun mereka, bersama seluruh harta benda dan harapan masa depan , punah. Yang tersisa adalah hamparan pasir sejauh mata memandang, berbau menyengat yang masih mengepulkan asap disana-sini
Mbak Ngatiyem berusia sedikit diatas 30 an, dia hanya duduk diam sambil sesekali mengusap kepala anak balitanya. Saat aku dekati, airmatanya mengalir deras, tanpa diminta, ditengah sedan ini ceritanya :
“ Bojo kulo kalih anak kulo jaler niku ronda, lha kabare wonten tiyang jahat ingkang bade mendhet sapi. Anak kulo niku umure 16 th, karepe ngancani bapake” sampai disini dia tidak bisa meneruskan ceritanya, tersedu-sedan. Ternyata suami dan anaknya tersapu lahar, tidak di ketemukan jenazahnya sampai sekarang. Yang tersisa hanya anak balitanya. Ya Tuhan….
Lain lagi dengan mbak Ponco, nenek cantik ini begitu pasrah menerima kenyataan bahwa suami dan menantunya lenyap tersapu lahar setinggi 3 meter
“ Tiyang niku namung sadermi nglampahi, pepesthenipun kados mekaten, bade dospundi malih. Kulo naming pasrah kaliyan Gusti ingkang maringi gesang.”. Tapi tetap saja matanya menerawang kosong
Ada beberapa puluh KK dari desa Nglagah Harjo yang tersapu lahar, mengungsi tercerai berai. Mereka pengungsi “sempalan” yang berada di posko Klaten, sisanya berada di posko besar, seperti Maguwo. Sebenarnya di posko terdaftar seperti ini, kebutuhan sembako lumayan terpenuhi, cuma kebutuhan untuk sayur dan lauk yang amat terbatas.
“ Sebaiknya di kasih kasur, bantal dan keperluan anak2 sekolah. Ketingalipun bade dangu wonten mriki, tiyang boten saged wangsul ” Kata pak Wardi
Demikian permintaan mereka ketika kami tanya apa yang mereka perlukan. Kami memang tidak membawa barang dari Jkt, kami ingin memberi mereka yang memang mereka butuhkan. Sehari penuh kami mencarikan barang yang mereka butuhkan termasuk kompor gas dan container plastic, agar mereka bisa menyimpan harta tersisa yang tak seberapa. Membawa anak-anak ke toko alat tulis dan keperluan sekolah. Mengajak mereka sekedar berbicara ngalor-ngidul agar sedikit terhibur.
“ Aku tas pink sing gambare prinses “ kata Ninin, 5 tahun, senyumnya mengembang sambil memilih tas sekolah yang langsung di pasang di punggungnya. Bagaimana airmata tidak jatuh?
“ Kulo nyuwun sepatu sing boten cemeng nggih bu?’ Pariono, anak SMK yang punya celana sekolah tapi tidak punya baju karena tidak sempat di selamatkan. Celoteh anak-anak memilih kebutuhan sendiri di toko, semoga mereka lupa sebentar dengan deritanya.
Rasanya mereka butuh pemulihan trauma, terutama bagi anak-anak. Sementara ini Mas Mit dan Mbak Dewi, sahabat2 kami, sedang berupaya kearah itu.
Hari itu kami kembali ke hotel sudah sore, membawa janji akan mengantar mereka menengok bekas rumahnya besok pagi jam 05.30.


Salam prihatin,

Tirta Amerta - air keabadian

Syahdan, dewa Wisnu pulang dari meeting dengan para dewa di kahyangan, perintah dari dewa Syiwa sudah jelas, agar Wisnu menyelamatkan tirta amerta yang saat ini sedang di perebutkan oleh para pendekar, para raja2 sakti maupun para denawa dibawah pimpinan Bethoro Kolo. Tirta Amerta adalah air keabadian, bagi yang bisa meminumnya akan menjadi abadi. Sebenarnya tirta ini sudah di sembunyikan di dasar segoro susu yang di jaga oleh dewa berujud naga, yakni Antaboga, namun para dewa khawatir apabila tirta ini jatuh ketangan para denawa, sebagai simbul kejahatan dan keangkaramurkaan, maka dunia akan musnah di telan kegelapan.
Dewa Wisnu memeras otak mengubungi teman2 nya di face book , membuka google mencari cara tepat untuk mengambil tirta tersebut dan membawanya kembali ke kahyangan.
Akhirnya di bantu oleh satu tim dewa kroco, Wisnu memerintahkan seekor kura2 besar untuk mengaduk segoro susu, agar Antaboga muncul di permukaan. Tehnisnya, puncak gunung Merbabu dipotong, di tumpangkan di atas punggung kura2, diikat memakai tali yang berupa naga taksaka dan diputarlah kura2 tersebut oleh dewa kroco untuk mengaduk segoro.
Berita Dewa Wisnu mengaduk segoro susu, membuat bethoro Kolo segera meninggalkan medan perang dan bergabung dengan para dewa kroco ikut mengaduk segoro susu, dia bertugas memegang ekor kura2 yang sedang berputar seperti gangsing.
Dewa Antaboga yang sedang leyeh-leyeh, tiba2 di kejutkan oleh angin beliung yang memporak porandakan pesanggrahan bawah air tempatnya menjaga tirta amerta, serta merta guci tempat Tirta Amerta di simpan segera di ambil dan dengan kecepatan kilat Antaboga naik ke permukaan air. Untung tak dapat di raih, buntung tak dapat di tolak, ketika Antaboga mencungul kok ndilalah ya dibagian ekor kura2 tentu dengan sigap bethoro Kolo segera merebut guci dan serta merta meminumnya. Bethoro Wisnu yang terbang diatas awan memonitor keadaan segera melepaskan senjata cakra tepat mengenaia tenggorokan bethoro Kolo. Tenggorokan kebawah musnah menjadi jenazah, namun tenggorokan keatas tetap hidup abadi karena sempat meminum titra amerta meski hanya sampai di tenggorokan. Bersamaan dengan jatuhnya jenazah separo Kolo, Tirta amerta segera di bawa terbang kembali ke kampung kahyangan, tinggallah kepala bethoro Kolo keluyuran mencari mangsa.

Peninggalan atas peristiwa ini berupa arca yang dibuat sebelum masa Majapahit. Arca di ketemukan dalam penggalian arkeolog di kaki Gn Kawi. Pada arca ini ada lubang2 di puncak arca, yang dulunya mengalir air pemujaan.
Apabila kita pergi ke Musium Gajah, arca ini terletak di lobby masuk sebelah kanan kita.

Salam,