Kalau kita membeli beras di pasar desa Gesing, Klithik pokoke daerah Kismantoro lah , di protelon atau prapatan desa kadang berkumpul beberapa bakul beras menggelar pasar kaget di hari-hari pasaran, biasanya simbok bakul akan menakar dengan satuan literan atau beruk.
Kanjeng Yut lebih suka bertransaksi pakai literan, lebih pas katanya. Tetapi uniknya yang di sebut seliter sesungguhnya adalah 2 liter, dan itu terpampang sangat juelas di luar alat ukur tersebut. Tapi siapa yang peduli ?. sing penting penjual dan pembeli podo geleme.
“ Yo ben wae, wong wiwit ndisik yo wis ngono kuwi. Lha kae deloken yen ngganggo beruk, rak malah repot , iyo yen beruk kambil gede lha yen kambil gading terus piye ”.
Begitu selalu kilahnya kalau diprotes cucunya, si Galuh yang suka ngeyel. Benar juga ukuran kelapa kan tak bisa di standarisasi.
Soal ukuran sing sak karepe dhewe itu yo bikin perang dunia, " kae jupukno tali rapia 10 kilan " Waktu menerima tali yang tepat 10 kilan cucunya, tentu saja tidak cukup terlalu pendek. Salah siapa hayo..
Kanjeng Yut lebih suka bertransaksi pakai literan, lebih pas katanya. Tetapi uniknya yang di sebut seliter sesungguhnya adalah 2 liter, dan itu terpampang sangat juelas di luar alat ukur tersebut. Tapi siapa yang peduli ?. sing penting penjual dan pembeli podo geleme.
“ Yo ben wae, wong wiwit ndisik yo wis ngono kuwi. Lha kae deloken yen ngganggo beruk, rak malah repot , iyo yen beruk kambil gede lha yen kambil gading terus piye ”.
Begitu selalu kilahnya kalau diprotes cucunya, si Galuh yang suka ngeyel. Benar juga ukuran kelapa kan tak bisa di standarisasi.
Soal ukuran sing sak karepe dhewe itu yo bikin perang dunia, " kae jupukno tali rapia 10 kilan " Waktu menerima tali yang tepat 10 kilan cucunya, tentu saja tidak cukup terlalu pendek. Salah siapa hayo..
Sekarang kita kenal satuan minyak bumi namanya barrel disingkat BBL, kenapa sih bukan BL saja? Bukankah “saudara2 nya ” seperti kilometer disingkat “KM” decimeter disingkat “DM” , centimeter sebagai “CM” ?.
Sejarah di mulai ketika minyak bumi mulai di temukan pada kisaran th 1860 an oleh Kolonel Drake , hasil produksi minyak mentah pada saat itu di tampung di tong, gentong kayu yang biasanya di peruntukan menyimpan ikan, gentong terpentin.
Tetapi karena ukuran tong kayu tersebut tidak sama, maka berangsur-angsur mulai di standarisasi di kalangan perminyakan, bahwa satu tong kayu atau disebut barrel berisi 40 gallon
Mulailah di kenal bahwa satu tong isinya 40 gallon, di tulis sebagai 1 ” BL” saja. Kemudian disadari bahwa minyak adalah benda yang mudah menguap, gentong acapkali juga bocor. Sehingga di capai kesepakatan baru agar tidak merugikan konsumen maka kedalam 40 galon minyak tadi masih di tambahkan 2 gallon minyak sebagai kompensasi.
Sejak itu sepakat 1 barrel hanya berisi 42 gallon.
Namun satuan barrel yg hanya berisi 40 gallonpun saat itu masih beredar, sehingga konsumen meminta jaminan isi 42 gallon per barrel. Gimana caranya ?. ternyata gampang, cukup mengambil cat berwarna biru, lantas di sepakati bahwa tong yang di cat biru adalah 42 gallon. Kemudian sejak itu “ Blue Barrel” mulai dikenal dengan singkatan “ BBL “.
Sekalipun tong-tong sekarang sudah berwarna merah kuning hijau dilangit yang biru, namun nama Blue Barrel tetap dipakai sampai kini.
1 gallon = 3.8 liter ( yen ora salah )
Salam,
sendang, Juni25.10