Kamis, 24 Juni 2010

Seliter yang (2) liter.

Judul diatas mungkin membuat bingung orang di luar Kismantoro, lha kismantoro iku pancen unik kok.

Kalau kita membeli beras di pasar desa Gesing, Klithik pokoke daerah Kismantoro lah , di protelon atau prapatan desa kadang berkumpul beberapa bakul beras menggelar pasar kaget di hari-hari pasaran, biasanya simbok bakul akan menakar dengan satuan literan atau beruk.
Kanjeng Yut lebih suka bertransaksi pakai literan, lebih pas katanya. Tetapi uniknya yang di sebut seliter sesungguhnya adalah 2 liter, dan itu terpampang sangat juelas di luar alat ukur tersebut. Tapi siapa yang peduli ?. sing penting penjual dan pembeli podo geleme.

“ Yo ben wae, wong wiwit ndisik yo wis ngono kuwi. Lha kae deloken yen ngganggo beruk, rak malah repot , iyo yen beruk kambil gede lha yen kambil gading terus piye ”.
Begitu selalu kilahnya kalau diprotes cucunya, si Galuh yang suka ngeyel. Benar juga ukuran kelapa kan tak bisa di standarisasi.
Soal ukuran sing sak karepe dhewe itu yo bikin perang dunia, " kae jupukno tali rapia 10 kilan " Waktu menerima tali yang tepat 10 kilan cucunya, tentu saja tidak cukup terlalu pendek. Salah siapa hayo..


Sekarang kita kenal satuan minyak bumi namanya barrel disingkat BBL, kenapa sih bukan BL saja? Bukankah “saudara2 nya ” seperti kilometer disingkat “KM” decimeter disingkat “DM” , centimeter sebagai “CM” ?.
Sejarah di mulai ketika minyak bumi mulai di temukan pada kisaran th 1860 an oleh Kolonel Drake , hasil produksi minyak mentah pada saat itu di tampung di tong, gentong kayu yang biasanya di peruntukan menyimpan ikan, gentong terpentin.
Tetapi karena ukuran tong kayu tersebut tidak sama, maka berangsur-angsur mulai di standarisasi di kalangan perminyakan, bahwa satu tong kayu atau disebut barrel berisi 40 gallon
Mulailah di kenal bahwa satu tong isinya 40 gallon, di tulis sebagai 1 ” BL” saja. Kemudian disadari bahwa minyak adalah benda yang mudah menguap, gentong acapkali juga bocor. Sehingga di capai kesepakatan baru agar tidak merugikan konsumen maka kedalam 40 galon minyak tadi masih di tambahkan 2 gallon minyak sebagai kompensasi.
Sejak itu sepakat 1 barrel hanya berisi 42 gallon.
Namun satuan barrel yg hanya berisi 40 gallonpun saat itu masih beredar, sehingga konsumen meminta jaminan isi 42 gallon per barrel. Gimana caranya ?. ternyata gampang, cukup mengambil cat berwarna biru, lantas di sepakati bahwa tong yang di cat biru adalah 42 gallon. Kemudian sejak itu “ Blue Barrel” mulai dikenal dengan singkatan “ BBL “.
Sekalipun tong-tong sekarang sudah berwarna merah kuning hijau dilangit yang biru, namun nama Blue Barrel tetap dipakai sampai kini.
1 gallon = 3.8 liter ( yen ora salah )

Salam,
sendang, Juni25.10

Minggu, 20 Juni 2010

Negoro mowo toto, deso mowo boso ( meksa)

Bahasa adalah alat komunikasi. Sebagus apapun sebuah bahasa jika tidak di pahami, terus kanggo opo?. Esensinya sebuah bahasa bisa dikatakan berhasil apabila di pahami oleh penggunanya, terlepas apabila bahasa itu di “cap” ndeso, kampungan, urakan lan sapanunggalane.
Lemah wutah getih, deso Gesing, Kismantoro punya bahasa yang “nyentrik” aku ra weruh apakah bahasa ini juga di pakai di daerah lain.
Akeh sing mung disingkat wae, upamane : wonten jadi enten, punopo jadi nopo, ora jadi ra, ojo jadi jo, wetan jadi etan, sampun dadi empun.

*· Arik – apabila di ucapkan tunggal tidak ada artinya, similar karo dong,deh,lho. “ ora eruh arik” maksudnya, aku tidak tahu lho. “ arik eram” maksudnya, bukan main.

*· Enjuh – padanan katanya, godag, jegos Artinya, bisa, capable. Godag lan jegos agak bernuansa negative. “ ngono wae kok ra godag”

*· Ndik ero – artinya, kiro-kiro, sesuatu yang tidak yakin

*·Nding/lin – artinya ora ono, biasanya dipakai untuk ungkapan gembira, contoh : nontonbalapan mlayu, kanggo menyemangati si pemain terus mbengok “ Ayo lin, terus sing banter” utowo “ Ayo nding, jo nganti kalah”…

*· Kirangan – ora ngerti

*· Waged – saged, biso, termasuk rodo alus.

Lan isih akeh maneh tunggale.

Aspriku di rumah asli soko Kismantoro, tepatnya deso Kalang, wetan kecamatan, nyabrang kali setithik. Dirumah dia tidak mau berbahasa selain jowo dialek Kismantoro. “ mboten sekeco nek matur ngangge boso Indonesia, mboten pantes”
Lha mbok ngomong karo wong asing, yo tetep nganggo boso Jowo. Ternyata sikap seperti itu membawa berkah tersendiri, saiki bapake Denok wis fasih boso jowo ala Kismantoro, sebabe yo margo dipekso aspriku iku mau.
Pernah suatu ketika aspriku ora masak sego, jare aspriku : Wos telas, kulo empun matur bapak dek wingi, bapak mendel mawon” Pakne Denok mlongo, o.. wos itu maksudnya beras????
Aku bebojoan karo pakne Denok puluhan tahun kalah karo aspri sing lagi 3 tahun wis berhasil mekso bojoku boso jowo.
Masalah timbul ketika kanjeng Yang Yut mireng sang mantu berkomunikasi dengan aspri memakai bahasa Kismantoronan, protes gak bisa dielak kan lagi. Miturut kanjeng Yang Yut, boso jawi ingkang saestu inggih puniko boso ala Surokarto Hadiningrat.....tobat dah.

Cbbr Jun 21.10

Sabtu, 19 Juni 2010

Adenium kecilku minta rumah baru

Adenium atau lebih dikenal dengan kamboja jepang adalah tanaman yang gampang sekali di rawat. Potong cabangnya, tancap ditanah, hiduplah dia, memberikan bunga semarak sepanjang musim.

Aku menanam kamboja ini dari bijinya, dan sekarang sudah mulai tumbuh sekitar 10 cm. Tentu saja media tempat sudah penuh sesak dan harus diganti dengan pot yang lebih besar. Kemarin Germi sudah kepasar membeli beberapa puluh pot kecil, kurasa cukuplah.

Mungkin ada yang belum pernah lihat buah kamboja?. Memang agak jarang kamboja berbuah, tetapi sekali berbuah bijinya banyak. Buahnya kecil panjang mirip buncis, tapi lebih besar dan lebih panjang. Memerlukan waktu beberapa bulan sampai buah ini masak di pohon. Bijinya berwarna putih dan mempunyai ekor yang bisa dipakai untuk terbang, jadi apabila buah sudah masak ditandai dengan retak2 di permukaan, silahkan segera diambil, kalau tidak buah akan berterbangan keudara.

Kalau bisa dari stek kenapa susah payah menanam dari biji?. Rahasianya adalah, kalau menanam dari biji bisa diperoleh bonggol yang indah


cibubur masih tgl 20 Juni 10

Tanggal 20 Juni 2010

Hari pertama belajar nge-blog. Tergoda dengan iming2 5 menit jadi, ning ternyata more then 20 minuto. Lha wong koneksi lelet tenan, yen pindah halaman bisa disambi makan nasi goreng atau bikin kopi. Barangkali juga flash model kuno ini sudah waktunya minta adik. Demikianlah akhirnya blog sederhana terlaksana, hanya sebagai perintang waktu bagi wanita biru, wanita yang sudah lewat masa merah...