Kamis, 15 September 2011

Kembang kahyangan

Saat aku jadi TKI di Dhaka, setiap malam menjelang selalu bau harum menyeruak ke setiap sudut ruangan. Kantor merangkap rumah berada di daerah Baridara, komplek kedutaan, cukup aman karena dijaga oleh tentara di setiap sudutnya. Lantai dasar untuk kantor sedangkan lantai atas untuk tempat tinggalku, terdiri dari 3 km tidur, living room, dapur dan meja makan. Cukup menyenangkan.
Dari mana kiranya bau harum yang kadang membuat bulu kuduk merinding ini ya. Selidik punya selidik, ternyata berasal dari pohon yang berbunga lebat tumbuh di depan kantor, tidak begitu kelihatan karena bunga dan daun-daunya berada diatas atap teras bawah. Kata security pohon itu sudah tumbuh lama sekali, mungkin puluhan tahun. Menurut bahasa mereka namanya pohon hastahena, bunganya kecil-kecil berwarna putih kekuningan. Hanya malam hari aromanya menyebar. Aku terpesona dengan aromanya yang menurutku agak mistis gimanaa gitu. Aku coba stek beberapa batang, eh kok ada satu yang tumbuh dengan baik. Waktu off pulang aku sembunyikan di amplop coklat hand carry ke Jakarta, slamet tidak ketahuan di detektor bandara. 
Sekarang kembang ini tumbuh subur didepan rumahku, wangi mistisnya menyeruak kemana-mana, saat aku menulis inipun sambil menghirup wangi bunga hastahena, mengingatkanku akan sedapnya tandoori.

Salam,

Nyanyian cinta Mbah Jambrong

Painah resah gelisah. Anak semata wayang, si Sekar sedang sakit. Umur 3 tahun, belum mampu mendeskripsikan sakit yang dideritanya. Kalau malam panas tinggi, tapi kalau pagi keringat keluar badan jadi enak dan bisa main lagi. Painah tidak habis pikir, sakit si Sekar ora sakbaene, tidak wajar. Dia bingung, Saiman belum waktunya pulang dari Jakarta, uang terakhir sudah habis untuk beli sego pecel yang di minta Sekar kemarin.  
“ gawanen nyang nggone mbah Jambrong wae Nah, ben di suwuk”  saran yu Parni, tetangga
“ aku ra nduwe duit ki yu, piye mbayare?”
“ aku yo ra nde cekelan Nah, ngene wae kondo trus terang karo mbah Jambrong, dibayar sasi ngarep nek Saiman mulih”
Painah berjalan gontai sambil menggendong anaknya ke sebelah bukit menemui mbah Jambrong, dukun popular yang “istimewa”, cacat dari lahir, tidak punya lengan dan kaki, konon mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Sesungguhnya Painah masih sangat muda, belum genap 19 tahun. Kulitnya hitam tidak terlalu manis, namun mempunyai senyum yang menawan. Tetapi karena kesulitan hidup, nampak seperti telah berusia 30 tahunan.
Kebetulan tempat praktek mbah Jambrong sepi hanya ada beberapa pasien yang tersisa. Tidak lama Painah pun mendapat giliran masuk kamar praktek. Mbah Jambrong pun segera beraksi dengan jampi-jampi andalan. Mulut komat-kamit, dan menyemburkan kemenyan ke kanan dan kekiri. Ndilalah kerso Allah, kok si Sekar yang dari semalam merengek, jatuh tertidur dengan pulasnya. Painah gembira bukan kepalang.
“matur nuwun lho mbah, niku si Sekar kok terus pules”
“buntelan iki mengko di seleh ngisor bantal yo, ojo lali”
“nggih mbah, ning anu, nggih sepurane nggih mbah,anu kulo niku anu dereng gadah arto, lha kang
Saiman wangsule  wulan ngajeng niku, nggih anu, nyuwun kawelasan, mangke kulo mbayare ngentosi kang Saiman wangsul, anu nggih ngapuntene nggih mbah”
“yo ora iso ngono to nduk, yo kudu di bayar saiki”
“kulo purun disumpah, boten gadah arto saestu, nggih anu, pripun lha kulo nggih bingung, anu”
“mbayar rak yo ora kudu nganggo duit to nduk, yo opo sak anane yo keno”
“ saestu, disumpah pocong kulo nggih purun, boten gadah nopo-nopo”
“kowe rak yo nduwe liyane to, lha iku …. yo keno nggo mbayar”
Painah semlengeren, tidak menyangka  mbah Jambrong minta imbalan seperti itu. Apa hendak dikata, Painah sudah judeg, tidak punya pilihan.
 Sekar tidak kunjung sembuh, artinya mbah Jambrong punya keasyikan baru, sampai Painah merasa tertekan dan bosan. Kemudian dia bercerita kepada tetangganya, yang lantas lapor ke RT setempat yang segera menggelar sidang desa dengan terdakwa mbah Jambrong.
“nopo leres mbah Jambrong ngrisak pager ayu, kanthi mekso Painah supados ngladosi sampeyan, jawab ingkang jujur” suara pak RT yang mantan tentara menggelegar.
“pak RT, kulo niku pancen nggih remen ngoten niku, wong kulo niku nggih tijang jaler lumrah. Nek bab kulo meksa Painah niku kulo boten ngakoni. Lha pripun leh kulo mekso, tangan ? kulo mboten gadah, sikil nggih buk. Nek mboten di thukne, di nyunyukne, kulo niku nopo nggih saged?”
Waduh.. para staff desa dan hadirin tertawa kepingkel-pingkel, sampai akhirnya persidangan dibubarkan tanpa ada keputusan. Painah hanya bisa menunduk, meski dalam hati mengutuk.
Kisah berakhir dengan Painah membawa Sekar menyusul suaminya ke Jakarta, Sekar dibawa ke Puskesmas di Bekasi ternyata kena tipes. Sekarang sudah sehat walafiat, selanjutnya Painah berniat akan terus mendampingi suaminya di Jakarta, untuk melupakan luka yang ditorehkan mbah Jambrong.
Kisah ini nyata, nama disamarkan.

Salam,

Senin, 12 September 2011

Pagi ini sangat cerah

Bagaimana tidak?. Kemarin pagi aku masih berkutat dengan urusan domestik " tidak berharga" yang menyita seluruh waktu dan perhatian sebelum ngantor. 
Pagi ini dunia nampak berbeda, udara pagi lebih harum, langitpun tampak lebih biru. Apa pasal?, aspri  sudah kembali menunaikan tugas sehari-hari, tugas yang kelihatanya tidak berharga namun amat sangat penting.  Pagi ini mereka sudah berceloteh sambil membuatkan sarapan, sebentar siang mereka akan di antar ke tujuan masing2. Satu orang ke Cikarang, pesanan anak mbarep, satu lagi di drop di " Warung Laguna" calon waiter.
Selamat datang kembali para perekat kebahagiaan keluarga saya, sudah 3 minggu kami menjalani hari2 tanpamu, waktu habis tersita, tidak ada sisa kekuatan untuk sekedar ngobrol dengan belahan jiwa. Terimakasih setulusnya.

Salam bahagia,

Berarti dulu buat sesama, baru boleh pergi.

Rabu, 07 September 2011

Tarawih terakhir, kiranya. Besok sudah malem lebaran bagi penganut rukyat. Ada kutu yang menusuk-nusuk hati, sedikit perih. Ini kali pertama lebaran tanpa Ibu, sang perekat. Rasanya seperti "sapu ilang suh" tercerai berai. Si dhenok sudah pulkam berangkat kemarin, tadi jam 19.00 sudah sampai di tujuan, sowan mertua. Adik, barusan menjemput anak-anaknya pulang, Bungsu masih di Manila. Lengkaplah sudah.
We have to get use to it, gak ada pilihan, memang harus di terima, kembali modal. Dulu berdua setelah bertahun-tahun pahit manis membesarkan anak-anak, tiba waktunya kembali berdua lagi. Tidak ada penyesalan, yang ada mensyukuri  tuntas tugas sebagai busur yang telah melontarkan 3 anak panah ke angkasa luas dalam asuhan Sang Kehidupan. Terbanglah dan kepak sayapmu setinggi yang kau mau, doa kami mengalun, rapal mantra mengiring setiap tapak jejakmu, memohon bimbingan Illahi tetap atas kalian semua.