Jumat, 10 Desember 2010

Merapi 2

Sisa desa Ngancar.
Minggu pagi jam 5.30 kami sudah bersiap untuk mengantar mereka menengok kampung halaman. Para wanita sedang sibuk menyiapkan sarapan berupa ubi jalar goreng dan tempe goreng. Kami makan sama-sama sambil mengajak mereka bergurau. Inilah sarapan terindah dalam hidupku. Tidak pernah kurasakan ubi dan tempe goreng selezat itu sebelumnya.
Kami bersiap naik merapi, ada beberapa mobil, salah satunya adalah mobil bak, mungkin milik relawan. Hanya para bapak yang naik, para ibu masih belum mampu menata diri melihat bekas rumah mereka. Beriringan kami naik, pagi ini indah, puncak merapi mengintip sedikit dari sela kabut. Disepanjang jalan tidak kelihatan sama sekali bekas bencana, para petani sudah menggarap sawahnya yang ijo royo-royo, dan pasar juga sudah di penuhi pedagang. Saya pikir perekonomian sudah mulai bangkit, meski status merapi masih tinggi. Setengah jam perjalanan kami mulai masuk ke jalan tikus, bekas pohon tumbang dan patah, daun kering mulai terlihat, sampai batas akhir mobil bisa masuk. Kami turun dan memasang masker karena bau busuk mulai menyengat. Kami berjalan sekitar 50 meter dan ya Tuhan, didepan kami hamparan pasir dan batu besar berserakan. Asap mengepul masih kelihatan nyata di sana sini, pasir dibawah kami masih terasa panas. Inikah sebabnya mereka minta kami antar pagi-pagi sekali supaya pasir tidak terlalu panas.
Kami berjalan terus di pandu Pak Wardi, karena apabila salah langkah kaki kami bisa terbenam kedalam pasir panas sampai selutut. Lelaki separuh baya ini matanya berkaca-kaca, menunjukan bekas rumahnya berdiri, ditandai dengan pohon manggis kehitaman yang dulunya berada di dekat kandang pojok pekarangan. Menurut perkiraan, diukur dari rumah di pinggir yang masih setengah berdiri ketebalan lahar tidak kurang dari 3 meter. Namun ketebalan ini tidak merata, ada sebagian yang lebih tipis dari pada itu.
Dari tempat kami berdiri kearah utara, lautan pasir kelihatan putih berawal dari puncak merapi lurus kebawah seperti jalan tol. Merapi hanya nampak sebentar kemudian kembali bersembunyi di balik kabut, mungkin malu karena telah menyebarkan begitu banyak penderitaan. Teman-teman pengungsi mengais apa saja yang mungkin masih bisa terselamatkan, ada bekas tabung gas 3 kiloan yang hangus, bekas sepeda motor yang kerangkanya kehitaman. Mas Miono menunjukan satu jarit ( kain panjang ) dan coklat beng-beng berdebu yang masih utuh dari atas lemari rumahnya yang terbenam separo. Kok bisa ya jarit dan beng beng tidak hancur. Aneh…tapi kok nyata. Bahkan ada sapi yang hangus terbakar di permukaan pasir, masih mengepul dan menyuarkan bau busuk tidak ketulungan, ada beberapa sapi lagi yang tersampir di kandang setengah terbenam.
Beberapa jam kami disana menunggu teman-teman pengungsi sampai akhirnya kami turun sekitar jam 9.00 untuk membagikan cash kepada masing2 kepala keluarga, karena ternyata mereka sangat membutuhkan cash agar bisa mulai bergerak.
Kami kembali ke Jakarta jam 12.30, lewat utara karena kami kurang pede lewat selatan, alhasil macet di Indramayu 3 jam, sampai dirumah Cibubur jam 05.30. Padahal harus kerja jam 8. Tetapi kami tidak merasa lelah, karena pengalaman yang kami alami, tertanam dalam di sanubari sebagai kenangan abadi.
Salam kelelahan,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar