Sudah diatur sejak kemarin, bahwa pagi ini jadwal dimulai jam06.00. Pertama mengambil kue 8 jam dan mastuba ke pasar Cindai, terus ke pasar ilir 26 mencari sarapan mie celor ( bukan telor lho ya, ini bukan salah tulis). Diwarung sederhana ini sudah banyak pembeli di pagi cerah. mie bulat, taoge, irisan udang, telor rebus di iris, berkuah santan ( atau susu ya ), rasa gurih, pedas, manis, pokoknya rasanya rame deh. Teman saya bilang : "Mie celor bikin neg, terlalu bersantan." buat saya sih mie celor sejuta rasanya....... Sesungguhnya celor artinya apa ya?. Ternyata celor artinya celup sebentar. ealah......
Siapa bilang cuma Jogja yang punya Dagadu si pabrik kata2? Ada nyenyes yang bukan oblong kosong. Sebelum pulang menyempatkan mampir di konter Nyenyes, cari oblong buat para cucu. Kwalitas lumayan, kata2 jenaka bertebaran di kaos pajang, harga 75,000 kayanya pantas lah, sayang tidak menerima credit card atau ATM, repot juga untukku yang jarang punya uang banyak di dompet.
Seperti wajib, dari Palembang kudu bawa oleh-oleh mpek empek, mampir sebentar di gerai crupal, dan siap ke bandara. Tahu tidak, bagi orang Palembang, sarapan pagi sepiring mpek empek adalah hal biasa, cuka asam sama sekali bukan persoalan bagi mereka. Makanan ini sudah "terlanjur" menjadi trade mark pemutar roda ekonomi yang menakjubkan.
Sudah diduga, kelebihan bagasi 30 kg, di konter Garuda hanya untuk chek in, membayar airport tax di konter lain, membayar kelebihan bagasi di konter lain lagi, duh.. repotnya karena harus menenteng 2 bungkusan panjang dan berat - si zaenal songket............
Selamat tinggal Palembang, terimakasih kepada kawan-kawan, Bobby, Pak Robby, kawan2 dari Pertamina Plaju Mas Ferry cs, Ibu Ros, Lis, yang membuat perjalanan ini sungguh berkesan, terimakasih Lupi, sopir Palembang asli tapi palsu yang setia mengantar kemana-mana.
Salam,
"mari kita berarti dulu, baru mati"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar