Biasane, numpak dokar di Ponorogo, dulu waktu aku SR, kalau mau ke Sumoroto ya numpak dokar, kan kalau mbecak pilotnya bisa2 lempoh, gak kuat. Enak lho numpak dokar itu, sambil terkantuk-kantuk, suara cringg..cring...cring..ketepak..ketepok.. teratur sesuai dengan lari kuda. Ning, cilakanya kalau kudanya kentut atau buang hajat.. waduh baunya bisa melekat di baju.
Rumahku di Kismantoro, tlatah Jawa Tengah, tetapi aku sekolah di Ponorogo, tlatah Jawa Timur. How can be ??. Terimakasihku tak terhingga kepada ayahku yang punya kesadaran tinggi, pada jaman nya, untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Ayahku adalah seorang Ronggo, pangkat yang didapat karena mengabdi kepada Kraton Mangkunegaran, Solo, gak punya gaji. Selain itu beliau bekerja sebagai kepala desa, juga tanpa gaji, hanya diberikan tanah garapan untuk "upah" mengurus desa. Berusaha keras berdagang segala macam untuk mengirim anaknya sekolah. Pada saat itu didesaku, Gesing tidak ada sekolah SR, jadi aku sekolah didesa tetangga, Lemahbang, hanya sampai kelas 3, karena muridnya habis, tinggal 4 orang saja. Kemudian aku dipindah ke Kecamatan, yakni Kismantoro, hanya sampai naik klas 6, kemudian dipindah lagi ke Ponorogo ke SD Sakti sampai lulus, karena ayahku ingin aku meneruskan sekolah ke SMPN I yang ngetop. Saat itu hanya ada 2 SMP di Ponorogo, yakni SMPN I dan SMPN II.
Jarak dari rumah ke Ponorogo sekitar 25 km an lah, tetapi cukup perjuangan berat untuk sampai ke Ponorogo. Pertama jalan kaki dulu dari rumah ke perbatasan, Biting, untuk bisa mencari dokar. Ini sekitar 7 km, cukup payah untuk kaki kecilku 11 th. Kemudian dari Biting ini naik dokar langsung ke Ponorogo, seharian di atas dokar, terkantuk-kantuk, menahan bau kentut, pipis, e-ekk... lumayan berat to?.
Memang dokar bukan satu-satunya kendaraan pada waktu itu, ada bis Damri, yang seperti kaleng krupuk berjendela kecil disamping, dengan tulisan besar " dilarang mengeluarkan anggota badan". Bis ini on duty cuma sekali sehari, pagi, jadi kalau kami terlambat ya naik kreto kecono tadi. Jujur aku lebih suka naik dokar dari pada bis, yang bau bensin nya sudah kecium jarak 1 kilo. Aku satu-satunya di keluarga yang mabuk darat, dan parah. Baru naik undak-undakan bis saja aku sudah muntah.... dan ini terbawa sampai dewasa.
Jadi dokar is the best lah.
Setahun di SD Sakti, lulus dan bisa masuk SMP I , ayahku dan ibu bangga bukan alang kepalang. Ibuku selalu mengangankan aku sekolah pakai baju seragam putih, rambut di klabang 2 dan naik sepeda onthel, gowes.. gowes...
Salam manis,
endang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar