Minggu, 15 Mei 2011

Hari ini

Ada nasi thiwul sisa kemarin, yah begitulah aspriku yang kreatif selalu punya cadangan gaplek di persediaan. Kemarin dia masak thiwul ireng, gurih kenyal, matched tempe bosok dijangan puedes, gudangan dong kates campur kenikir, tahu bacem, panggang iwak pitik.. wah nyepotke kucir……
Sisa nasi thiwul itulah yang pagi ini di goreng oleh Inah hanya di bumbui lombok jemprit, brambang dan bawang, wis gitu aja di uleg. Digoreng dengan minyak sedikit agar nasi ngintip di wajan. Sego goreng thiwul ngintip panas disiram jangan blendrang kemarin, wah membawa angan ke 50 an tahun yang lalu di desaku Nggesing, tlatah Kismantoro.

Hama tikus meraja lela, celeng turun gunung mengobrak abrik tanaman,hama wereng, hujan segan turun………
Setiap malam para petani ngropyok tikus di sawah, rumah, pekarangan, lumbung dimana-mana banyak sekali tikus. Bahkan di tumpukan bantal, disela kasur, di babrakan tempat menyimpan alat2 masak, dimana-mana pun bersembunyi tikus yang jumlahnya buanyak sekali. Yang dimakan juga apa saja, singkong berikut batangnya, padi dari akar sampai bulir, kelapa di pohon, buah apapun juga di sikat habis, bahkan sabun mandi colibrita berwarna hijau daun kesayangan, pasta gigi dapat oleh-oleh dari kotapun di mangsa juga. Bahkan, kaki manusia pun di krikiti tanpa ampun. Pagi-pagi mereka sudah menemukan darah berceceran di amben karena kaki di krikit tikus. Kamu jangan membayangkan seperti masa sekarang sanitasi sudah bagus tidur di kamar dengan springbed king coil, tidur pakai piyama dengan kaki bersih. Saat itu sanitasi jatuh di nomor 99. Gambaranya begini, rumah desa, dinding bambu, kerangka rumah bambu, atap genteng buatan sendiri, lantai tanah berdebu, harus sering disiram. Masak disitu, tidur disitu, kandang binatang piaraan, sapi, kambing juga disitu. Nah, logis kan kalau kaki mereka di krikit tikus karena baunya yang tidak sedap. Meski setiap malam berkarung mereka basmi tetap saja tikus tak berkurang jumlahnya. Menurut para tetua, Nyai Roro Kidul sedang murka mengirim bala tentara wabah ( tikus )
Kami makan sangat seadanya, polowijo menjadi andalan, ketika polowijo di pekarangan abis, mulai menjarah isi hutan, isi hutan habis, banyak penduduk yang meninggal karena tidak ada yang dimakan. Penderita terparah dikumpulkan di pendopo kelurahan ( rumahku) untuk di rawat ala kadarnya. Ibuku membuat jenang katul setiap hari satu jedi ( wajan buesar, biasanya untuk membuat jenang kalau hajatan) sebagai menu wajib karena seluruh tubuh mereka bengkak, beri-beri. Hanya sego thiwul ireng dan jangan lumbu ( sejenis talas) yang mampu disajikan. Tangan kecilku biasanya membantu dengan memberikan sejumput garam untuk menambah rasa. Banyak diantara mereka yang kepalanya gundul, plonthos, bukan karena di cukur tapi karena rontok akibat hanya memakan pupus daun lamtoro berbulan-bulan.

Sego thiwul ireng penyelamat kehidupan , mengajariku untuk banyak bersyukur.

Salam manis,
Cibubur Mei 15.2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar