Sabtu, 25 Februari 2012

Nazar sang penjaga zamzam

Aku membayangkan sedemikian banyak suku, kaum, keturunan atau apalah di ranah Arab, demikian pula di Mekah pada masa itu  Dengan pride yang tinggi dan kepentingan suku yang pastinya sering berbenturan dengan suku lain, rasanya permusuhan adalah menjadi hal yang sering terjadi. Martabat dan keturunan adalah hal yang di agungkan pada saat itu.
Pada saat Abdul M menjadi zamzam guard, kaum Quraisy menjadi iri. Asumsikan bahwa air adalah sesuatu yang susah di dapat pada saat itu, padahal zamzam sedemikian melimpah.  Kaum Quraisy ingin juga menjadi penjaga zamzam, namun keinginan itu kandas karena ditolak Abdul M, : " Stay away from my project, will you" mungkin begitulah kira2 penolakan Abdul M yang memicu kemarahan dari pihak Quraisy. Sampai deseretlah Abdul M ke pengadilan seorang " pintar " semacam dukun begitulah, di kota Syam. Sebelum sampai di tempat hakim dukun tersebut   mereka kehausan, dan dengan kehendak Allah swt, diturunkan hujan hanya kepada Abdul M, tidak setetespun kepada kaum Quraisy tsb. Akhirnya mereka membatalkan rencana ke Syam, kembali ke Mekkah dan mengakui Abdul M adalah satu2nya penjaga zamzam.
Saat itulah Abdul Muthalib bernazar, bahwa jika dia di karuniai anak 10, maka salah satu diantaranya akan di sembelih untuk Ka'bah, bila mereka sudah baligh ( dewasa).
Ndilalah kersaning Allah, Abdul M benar2 dikaruniai 10 anak. Ketika mereka dewasa,  dipanggilah ke 10 anaknya dan diberitahukan mengenai nazar yang sudah waktunya di laksanakan. Kaget dan takut mewarnai hati ke 10 anak2, namun semua tidak ada yang membantah. Mungkin pada saat itu pendidikan patuh kepada ortu masih sangat kuat.
Dengan cara di undi, ternyata Abdullah anak yang harus di sembelih di depan Ka'bah. Abdullah patuh dan menurut ketika dituntun ayahnya kedepan Ka'bah, namun kaum Quraisy, paman2 nya dari pihak ibu, berusaha mencegah. Menghadapi sikap tersebut Abdul M menjadi galau : " Aku harus bagaimanaaaaa? " Mereka menyarankan untuk menemui, lagi2, orang pintar, peramal. Dianjurkan untuk menukar Abdullah dengan 10 ekor unta. Pada zaman itu "diyat" atau denda, ganti rugi, tertinggi adalah 10 ekor unta. Namun ketika diundi antara Abdullah vs 10 ekor unta, tetap saja undian jatuh ke Abdullah. Begitu berulang-ulang sambil di tambah jumlah unta, tetap saja Abdullah harus disembelih. Sampai hitungan mencapai 100 unta, barulah undian jatuh ke unta.
Unta 100 disembelih dan dibagikan kepada seluruh penduduk Mekkah.
Abdullah tumbuh menjadi lelaki tampan dan baik hati, menjadi buah bibir kaum wanita Quraisy. Yang beruntung adalah Siti Aminah, gadis terhormat dari suku Quraisy, baik dalam hal martabat maupun keturunan. Bobot, Bibit, Bebet  

Salam,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar