Menu berbuka hari ini bakal istimewa. Ndas wedus di masak gule meet sego thiwul dan lalap daun kates, nyam..nyam. Ndas wedus adalah pesanan Adik, anakku no 2 yang tiba-tiba saja kepingin gule ndas wedus. Tidak mudah lho mendapatkan materi ini, di pasar Cisalakpun tidak setiap hari ada. Untung Germi punya network lumayan, jadi dapat materi idaman ini yang di pesan sejak semalam.
Ibuku paling pinter masak ndas wedus ini. Saat kami kecil harus ada acara istimewa agar dapat menikmati hidangan ini. Pertama Ibu harus pergi ke pasar Puthuk sejauh sekitar 3 km, berjalan kaki untuk membeli ndas wedus berikut kikilnya. Kemudian ndas yang masih penuh bulu ini kudu di bakar dulu untuk menghilangkan kulitnya, saat2 seperti ini bau kulit dan wulu terbakar sungguh mempesona hidung kami, kadang2 kami lari kelapangan dekat rumah hanya untuk testing sejauh apa bau indah ini tersebar.
Kemudian tugas kami untuk ngerik sisa wulu yang tertinggal, pakai pisau kecil atau kadang pakai pecahan beling. Kami mengerik dengan penuh gustho, membayangkan gule yang akan kami nikmati nanti. Prosesw masih jauh dari selesai, Ibu akan menggodog ndas ini di kwali tanah sekitar 2 jam, tergantung besar kecil ndas tersebut. Sesudah empuk, ini tugas hanya Ibu yang mampu melaksanakan, yakni memotong motong memisahkan tulangnya, mengambil otaknya dan mengumpulkan dagingnya untuk kemudian di masak gule pedes yang nyamleng. Start pagi umun-umun gule penuh pesona ini kami nikmati ketika makan siang.
Ibu I missed you much.
Salam,
harus berarti dulu baru boleh mati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar