Kenangan di kampungku saat aku kecil kala lebaran, penganan pastinya beda dengan sekarang, yang apapun bisa di beli di toko. Dulu semua hand made, khas masakan desa.
Sejak seminggu sebelum lebaran ibu sudah sibuk persiapan sana sini. Ngumbah kloso ke kali, ini ritual yang tak boleh ketinggalan, karena pada meja kursi masih terbatas jumlahnya. Hanya tetamu dengan strata tertentu yang lenggah di kursi penjalin. Abdi Negara selalu dianggap ber strata tinggi, setingkat lebih rendah adalah pedagang, baru kemudian disusul para petani. Pembagian kasta peninggalan hindu kurasa.
Kemudian ibu akan mengeluarkan simpanan padi terbaik, pari wulu, dari lumbung untuk di tutu, di sosoh, agar menjadi beras putih yang harum.
Ibu akan sibuk membuat jadah dan jenang, begitupula krecek ( rengginang) dan tape ketan hitam yang manisnya nyus.Kemudian ibu juga membuat penganan yang " modern" yaitu lapis beras, kacang bawabg dan kolong. Kolong adalah penganan terbuat dari tepung ketan, di uleni dan di bentuk seperti donat, digoreng.
Aku paling suka lapis beras yang berwarna merah putih, berlapis-lapis indah di mata dan enak dinikmati dengan di tarik selapis demi selapis.
Semua penganan diatas sudah tidak ada lagi, terlalu "kuno" , anak2 sekarang sudah tidak lagi menyukai jadah atau jenang, lebih suka cheese stick atau potato chip.Ibu juga akan mempersiapkan ritual menjelang lebaran yang disebut megeng ( e dibaca tumpul), semacam selamatan melepas para arwah leluhur yang di yakini ketika puasa pada libur dan menengok anak cucu. Ini bisa dilihat dari perangkat selamatan yang terdiri dari apem, srundeng, ayam ingkung, pisang raja. Masakan tersebut adalah piranti untuk selamatan arwah. Begitupun sesajen disiapkan di meja kecil di senthong tengah. Wedang kopi segelas, wedang teh tubruk segelas, apem sepiring, sega sak lawuhe sepiring, kembang setaman segelas, gedhang rojo temen setangkep, rokok cap dongkrak dan candu
Hari ini aku rindu ibuku, aku coba membuat kacang bawang, tentu saja sudah aku modif agar lebih mudah.
Bahan :
- 500 gram kacang tanah kupas. Pilihlah kacang lokal, butiranya lebih kecil, rasanya lebih manis. Hati-hati kadang-kadang kacang kupas sudah buduk, disimpan terlalu lama jadi rasanya sudah kurang enak. Kacang buduk ini bisa ditandai dengan menciumnya, kalau terasa segar tandanya kacang masih baru.
- Bawang putih 5 siung besar
- Masako rasa ayam blog
- Mentega
- Minyak untuk menggoreng.
- Kacang kupas di rendam dalam air panas sekitar 30 menit
- Kacang di tiriskan, kemudian taruh diwadah.
- Bawang putih di iris halus, masako 1 blog, garam 1/2 sendok teh, di campur dengan kacang, biarkan 1 jam
- Panaskan minyak goreng, tambah 1 sendok makan mentega, kacang dimasukan.
- Goreng sampai kekuningan, jangan sampai gosong, kalau gosong kacang jadi terasa pahit.
- Siapkan kertas koran, keringkan kacang goreng diatasnya.
- Bila sudah dingin simpan di toples
- Ingat, setiap akan memasukan kacang ke wajan, tambah 1 sendok mentega.
Yuk kita buat diri kita berarti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar