Selasa, 26 Juli 2011

Kue 8 jam

Hari ke 2-
Sejak berangkat Pakne Dhenok dah pesen kue 8 jam, karena kebetulan baru dibahas di tivi. Supir yang  ngaku Palembang palsu tentu saja tidak bisa memberikan informasi, reseption di hotel juga tidak tahu, wong dia anak Jambi. Untung isteri mas Ferry tadi malam memberikan informasi, bahkan memberikan sedikit tip masalah kue ini.
Pagi-pagi dipasar Cindai, masuk kelorong pasar yang penuh dengan bakul mpek2 mentah , segala rupa jenis crupal, tekwan basah dan kering, serta kios kue - kue seakan tak habis-habisnya, penggemar crupal pasti akan tenggelam disini.
Inilah perkenalan pertama kue 8 jam, David, si penjual yang berkulit langsat, menceritakan proses pembuatan kue ini yang memang 8 jam lamanya, terdiri dari tepung, gula, dan banyak telor, diaduk tak boleh berhenti.  Kwalitas telor menentukan harga, telor bebeklah yang paling mahal. Rp250,000./ per pak seukuran 20 x 20 cm. Kue berwarna kecoklatan dengen tekstur lembut, rasanya ?. Entahlah,  karena aku tidak mencoba.
Aku pesan satu kue 8 jam dan kue mastuba untuk di bawa pulang besok. Kue mastuba juga kue kuno berbahan sama dengan kue 8 jam, bedanya di panggang selama 4 jam, berwarna lebih  menarik, kuning ke coklatan.  Untukmu pakne Dhenok kupersembahkan......

Menyelesaikan beberapa document sebelum petualangan di lanjutkan.

Ke Palembang masa nggak ke situs Sriwijaya?. Aneh rasanya. Nah, yang ini aku punya guide istimewa. Teman lama saya yang memang asli Palembang siap berangkat, selamat tinggal supir palembang asli tapi palsu. 
Diawali dengan makan siang  bersama Kak Ros dan Ibu Lis, di rumah makan patin terkenal " Ibu Oca"  semangkok patin rasa asam pedas, segar sumyah, nyus.. rasanya, ditutup dengan desert srikaya, manis gurih.
Restoran ini selalu penuh meskipun sudah di tambah beberapa ruangan, tak heran karena kemudian aku baru tahu bahwa restoran ini satu dari tujuan wisata kuliner di Palembang.   
Kak Ros dan Ibu Lis kembali kekantornya, aku mulai dengan tujuan ke situs Sriwijaya yang tersisa. Teman saya mengemudikan mobil dengan halus sambil memberikan keternagan temapt-tempat yang kami lewati.  Bahwa daerah yang kami lewati adalah bernama Paelmbang Ilir sedangkan daerah di seberang sungai Musi disebut Ulu, Bahwa masih banyak sekali rumah-rumah panggung yang di pertahankan sampai sekarang  Rumah-rumah Barri ( kuno) masih nampak di sana sini,
Situs Sriwijaya tak terlalu berkesan, untuk ku paling tidak, hanya ada bekas benteng dan aliran sungai buatan yang tak telalu terpelihara. Nampak ada restorasi pembangunan pintu gerbang yang belum sepenuhnya jadi.
Perjalanan lanjut menyususri tepian Musi, sampai ke perajin songket legendaris " Zainal ". runa gdepan penuh dengan oranmen dan fotho dengan para pejabat tinggi, Laura Bush, Ibu Megawati, Ibu Ani dan masih banyak lagi, termasuk piala dan penghargaan.

Salam,
" harus berarti dulu, baru bisa mati "

Jumat, 22 Juli 2011

Jembatan Ampera

Ada relasi di kantor mengatakan bahwa Palembang tidak banyak yang bisa di lihat dan di makan, selain  duku, durian dan pastinya empek-empek. Ah masa iya sih.
Hari ke 1 - tiba di hotel Sahid jam 10.30  lusuh dan sedikit lelah, karena berangkat dari rumah harus pagi sekali menghindari macet otw ke bandara Sukarta. Kepingin mandi dan ganti baju. Senyum manis mbak resepsion :" maaf bu, kamarnya belum siap, nanti baru jam 14.00 ibu baru bisa masuk, orangnya belum chek out" waduh ... kesan pertama sudah kurang menggoda nih.
Aku contact client untuk makan siang on their choice, eh mereka milihnya di Dapur Sunda, tadinya aku mengharap  makan di resto khas Palembang. Client is the raja, so be it.
Habis makan meneruskan perjalanan ke Plaju, ke kantor client. Jembatan Ampera kami lewati, kesan biasa saja.  Kembali hotel sudah jam 17.00, untung kamar sudah kosong.
Kamar mayan, tapi lho kok handuknya kumuh, lho kok kran bocor, lho kok gak ada tempat sampah, lho  gak ada air mineral compliment. kesan kedua masih tak ada goda.

Habis mahrib bersiap ketemu client lain di Arya Duta. sms :" kalau bisa tolong titip belikan mpek2 embol yang disamping hotel ibu, aku mau bawa pulang jkt nih ". Aku buka jendela hotel, dan nah tuh dia mpek2 embol, waduh tapi kok dah mau tutup, kelihatan enciknya dah nutup pager besi.. Aku call supir dibawah untuk lari ke warung dan minta di bungkuskan mpek seperti titipan. Selamat, masih ada sisa meski tinggal sak uprit.  
Dinner di Arya Duta selesai jam 09.00. sms : " Ibu kami tunggu di river side  resto, depan benteng kuto besak"
Supir ku ngaku orang asli Palembang, tapi kok nggak ngerti jalan, untuk ke Restoran Riverside, mutar 3 x baru ketemu. ampyunn.. 
Latar belakang Jembatan Ampera  berpendar oleh lampu indah, didepan benteng kuto besak riuh dengan banyak pengunjung bersantai ria, bercampur dengan penjual dan penjaja. Padahal bukan malam libur.
Bagaimanapun Jembatan Ampera lebih indah dilihat malam hari dibanding siang, itu kataku.
Hampir tengah malam baru kembali ke hotel, mission accomplish, kami tidak jadi ke Lahat besok, sudah bisa di settle disini. Good nite,  sleep well.

Salam,

Jumat, 15 Juli 2011

Membantu boss

Baru selesai membantu boss  menimbang mie mentah, mayan pegel di tangan. Boss ku dirumah tuh  handle sendiri rumah makan nya di daerah Jati Waringin. Meski hampir keseluruhan kegiatan di laksanakan di sana, kadang-kadang masih membawa PR kerumah. Aku berusaha tidak terlalu mencampuri usaha ini, kecuali masalah pajak dan audit. Kata orang kapiten harus cuma satu, kalau ada kapiten dua nanti kapalnya bisa oleng.
Tujuan membuka rumah makan itu dulunya sederhana. Pertama kami beli tempat di pinggir jalan Jatiwaringin, waktu itu masih agak murah, kami bikin 3 lantai. Lantai 1 untuk  rumah makan, lantai 2 untuk kantor anakku mbarep, lantai 3 untk mess karyawan. Kenapa memilih jualan makanan, lha wong rencananya nanti kalau sudah tua dan tidak ada penghasilan lagi bisa numpang makan di warung je .. hiks....hiks.. kuno sekali ya.  Anak2 suka mentertawakan ide brilian ini.

Salam,

Sabtu, 09 Juli 2011

Mang Saidin emang joss

Pertama kali di refleksi rasanya horor. Gimana nggak, lihat peralatan saja sudah senewen, kayu bergerigi dalam beberapa ukuran, ada yang seperti ulegan sambal, panjang seperti pensil berujung tumpul. Telapak kaki di pencet, ditusuk, di uleg , 3 hari baru hilang njaremnya. Cukup lama saya jothakan sama refleksi ini.


Sampai seorang teman menunjukan refleksi gaya baru di mall yang jauh dari kesan seram, reflektor rapi ( kok rata-rata dari daerah Sumatra ya ), musik lembut, harum. Mereka mengandalkan ujung jempol dan buku jari untuk memijat, bahkan kita boleh memilih tingkat keras pijitannya. Liyer-liyer..


Beberapa bulan yang lalu saat spa disebuah salon dekat rumah, bertemulah dengan Mang Saidin si juru refleksi holistik. Coba sekali, lho kok enak... pijitan cukup keras tetapi pas di tempat yang seharusnya, kelihatanya dia menguasai betul. Sejak saat itu si mamang sudah masuk agenda bulanan.


Pagi tadi, badan batuk-pilek ini aku serahkan ke tangan mang Saidin van Cilacap untuk di overhoul. Sejak pijitan pertama aku sudah setengah terlena.. nikmat....


Mang Saidin memang joss.

Salam,


"Harus berarti dulu, baru boleh mati"

Kamis, 07 Juli 2011

Dalang yang CEO

Bosku itu pinter ndalang, malah sudah menerbitkan buku mengenai pewayangan, bisa di sebut wayang politik lah, karena lakon wayang disesuikan dengan kondisi politik. Beliau punya acara tetap ndalang di TVRI . Jadi ya kumplit lah, CEO sebagai sambilan, utamanya ya ndalang itu tadi.

Menurut aku this is inspiring, maksudnya untuk beliau yang sudah cukup sibuk mengurus beberapa perusahaan namun masih meluangkan waktu untuk seni dan budaya yang sebenarnya kurang polpuler karena sudah mulai di tinggalkan oleh kawula muda.
Bravo boss, maju terus...

Salam,
"jangan mati sebelum berarti."

Musim liburan

Terang saja jalanan agak lengang karena anak sekolah memang sedang libur panjang hanya 40 menit dari rumah sudah sampai di kantor. Syiikk.. asyik..
Empat sekawan, cucu kesayangan, juga libur, beberapa hari di Cibubur kemudian pindah ke cikarang tempat kanjeng Budhe. Jadwal hari ini balik ke Cibubur.
Liburan ini ada yang spesial buat kanjeng Niek, karena cucu ke dua, B, namanya memang B, sudah mulai "agak" patuh sholat, walupun kalau subuh masih suka mlungker. Tinggal tunggu Mas L and Dik N yang masih agak malas.
Dik Ken, cucu ke 4 tahun ini masuk SD, wuahh bangganya bukan main, menghitung hari agar segera masuk sekolah dengan seragam keren putih merah.


Salam
"jangan mati sebelum berarti."

Kamis, 02 Juni 2011

Ragil boyong

June 1.2011 hari lahir pancasila, Ragil boyongan ke apartemen di Gandaria. Aku gak anter lha kebetulan di kantor juga lagi rush, meeting konsultan pajak mengenai hasil banding pajak 2006 however setgelah 2 tahun perjuangan berhasil dengan manis, m e n a n g...... horayyy... diteruskan masih tentang pajak, audit tahun 2009 yang sampai ke tahap pembahasan, jadi banyak yang kudu di persiapkan.
Hari ini ndilalah ya ke kampus membahas materi KUP dengan pak W, dosen favorit kami.
Mudah-mudah an di tempat yang baru membuat dirimu betah anakku. Cepatlah beri cucu kepada kami.
Ke empat cucu, L, B, N dan K hari ini juga tidak muncul. memang lagi musim ulangan sih, L & N sudah mulai sejak Senin lalu, B & K baru mulai Senin depan. B sudah ancang-ancang : "Niek, kalau B ada di 5 besar minta hadiahnya kaset GTA 6 buah"
What the heck is GTA ?????? ennggg .. ing..engggg.....kendala komunikasi Nenek vs cucu sudah dimulai.....

Sore cerah, teriakan anak-anak didepan rumah membuat sore lebih ceria.