Jumat, 05 Agustus 2011

Endhas wedhus meet sego thiwul

Menu berbuka hari ini bakal istimewa. Ndas wedus di masak gule meet sego thiwul dan lalap daun kates, nyam..nyam. Ndas wedus adalah pesanan Adik, anakku no 2 yang tiba-tiba saja kepingin gule ndas wedus. Tidak mudah lho mendapatkan materi ini, di pasar Cisalakpun tidak setiap hari ada. Untung Germi punya network lumayan, jadi dapat materi idaman ini yang di pesan sejak semalam.
Ibuku paling pinter masak ndas wedus ini. Saat kami kecil harus ada acara istimewa agar dapat menikmati hidangan ini. Pertama Ibu harus pergi ke pasar Puthuk sejauh sekitar 3 km, berjalan kaki untuk membeli ndas wedus berikut kikilnya. Kemudian ndas yang masih penuh bulu ini kudu di bakar dulu untuk menghilangkan kulitnya, saat2 seperti ini bau kulit dan wulu terbakar sungguh mempesona hidung kami, kadang2 kami lari kelapangan dekat rumah hanya untuk testing sejauh apa bau indah ini tersebar.
Kemudian tugas kami untuk ngerik sisa wulu yang tertinggal, pakai pisau kecil atau kadang pakai pecahan beling. Kami mengerik dengan penuh gustho, membayangkan gule yang akan kami nikmati nanti. Prosesw masih jauh dari selesai, Ibu akan menggodog ndas ini di kwali tanah sekitar 2 jam, tergantung besar kecil ndas tersebut. Sesudah empuk, ini tugas hanya Ibu yang mampu melaksanakan, yakni memotong motong memisahkan tulangnya, mengambil otaknya dan mengumpulkan dagingnya untuk kemudian di masak gule pedes yang nyamleng. Start pagi umun-umun gule penuh pesona ini kami nikmati ketika makan siang.  
Ibu I missed you much.
Salam,
harus berarti dulu baru boleh mati

Minggu, 31 Juli 2011

Selamat berpuasa

Hari pertama puasa, kerja seperti biasa, sibuk sepeerti biasa. Hari ini kepingin pulang on time, pengin buka bersama cucu2 dirumah. Apa sih yang lebih membahagiakan kecuali berbuka bersama cucu2 kesayangan, tarawih bersama, Insya Alloh.
Si Bungsu hari ini berangkat ke Manila di gondol suaminya yang pindah kerja di sana. Selamat jalan sayang, take care, baik-baiklah di negara orang. Doa kami besertamu.

Salam,

Sabtu, 30 Juli 2011

Mendung

Menerima berita dari sepupu di Madiun, berita keluarga memprihatinkan.
Keponakan dari sepupu, J, sakit parah terkena cancer, getah bening katanya.
Keponakan dari sepupu, remaja tanggung, terkena Hydrocepalus, kondisi parah. Padahal kakak nya juga ada indikasi cancer payudara.
Suami keponakan sepupu, kecelakaan nabrak pohon asem, kabarnya tangan nya patah.
Suami sepupu di Njeruk, meninggal dunia  mendadak, padahal  siangnya masih segar bugar.

Ya Alloh, Pemegang Segala Keputusan, hanya Engkau yang berhak memberi sakit dan memberikan sembuh. Ampunilah dosa2 saudaraku yang terkena musibah, karuniamu kami mohon untuk kesembuhan nya. Berikanlah kesabaran yang tak terbatas bagi keluarga yang merawatnya. Amin, ya Robbal Alamin. 

Salam sedih,

Jumat, 29 Juli 2011

Cepet sembuh sayang

Cucu ke 2 dan ke 4, B dan Ken sedang sakit sudah 3 hari tidak sekolah. Ya Alloh, mohon kesembuhan untuk mereka, Engkau yang memberikan penyakit, hanya kepadaMU kami memohon pertolongan. Amin.

Salam,

Nuning dan motor baru

Nuning adalah satu2nya gadis karyawan di warung Laguna, paling cantik dong, emang benar. Gadis berusia 19 tahun ini trampil dan terpercaya. Dia kasir merangkap mandor di warung ini.
Hari-hari kemarin dia uring-uringan, marah terus pembawaanya. Apa pasal?. Oalah rupanya sedang perang dingin dengan emaknya, karena Nuning ingin memecah tabungan untuk beli motor, emaknya tidak setuju kelihatanya uang mau dipakai untuk memperbaiki rumah. Emaknya bekerja di rumahku sebagai aspri, dah lama sih sekitar 4 tahunan lah. Senjata terakhir si anak : " Pokoke bodo aku ra mulih mak, nek ra entuk tuku motor"  Nah lho, si emak jadi blingsatan, setelah beberapa hari berfikir dan di provokasi oleh banyak pihak, akhirnya gencatan senjata, si emak mengalah, toh Nuning membeli pakai uang sendiri......
Aman....... konsentrasi si emak yang sempat terganggu kini kembali normal, masakan dah enak, dah mulai ketawa-ketiwi lagi......

Salam,

" tenan lho, ojo mati yen durung mbejaji lan murakabi" 

Nyenyes, bukan oblong kosong

Hari ke 3 - waktunya pulang.
Sudah diatur sejak kemarin, bahwa pagi ini jadwal dimulai jam06.00. Pertama mengambil kue 8 jam dan mastuba ke pasar Cindai, terus ke pasar ilir 26 mencari sarapan mie celor ( bukan telor lho ya, ini bukan salah tulis). Diwarung sederhana ini sudah banyak pembeli di pagi cerah. mie bulat, taoge, irisan udang, telor rebus di iris, berkuah santan ( atau susu ya ), rasa gurih, pedas, manis, pokoknya rasanya rame deh. Teman saya bilang : "Mie celor bikin neg, terlalu bersantan." buat saya  sih mie celor sejuta rasanya....... Sesungguhnya celor artinya apa ya?. Ternyata celor artinya celup sebentar. ealah......

Siapa bilang cuma Jogja yang punya Dagadu si pabrik kata2?  Ada nyenyes yang bukan oblong kosong. Sebelum pulang menyempatkan mampir di konter Nyenyes, cari oblong buat para cucu. Kwalitas lumayan, kata2 jenaka bertebaran di kaos pajang, harga 75,000 kayanya pantas lah, sayang tidak menerima credit card atau ATM, repot juga untukku yang jarang punya uang banyak  di dompet.

Seperti wajib, dari Palembang kudu bawa oleh-oleh mpek empek, mampir sebentar di gerai crupal, dan siap ke bandara. Tahu tidak, bagi orang Palembang, sarapan pagi sepiring mpek empek adalah hal biasa, cuka asam sama sekali bukan persoalan bagi mereka. Makanan ini sudah "terlanjur" menjadi trade mark pemutar roda ekonomi yang menakjubkan.

Sudah diduga, kelebihan bagasi 30 kg, di konter Garuda hanya untuk chek in, membayar airport tax di konter lain, membayar kelebihan bagasi di konter lain lagi, duh.. repotnya karena harus menenteng 2 bungkusan panjang dan berat - si zaenal songket............
Selamat tinggal Palembang, terimakasih kepada kawan-kawan, Bobby, Pak Robby, kawan2 dari Pertamina Plaju Mas Ferry cs, Ibu Ros, Lis,  yang membuat perjalanan ini sungguh berkesan, terimakasih Lupi, sopir Palembang asli tapi palsu yang setia mengantar kemana-mana.

Salam,

"mari kita berarti dulu, baru mati"

Kamis, 28 Juli 2011

Mendulang emas di negeri Svarnadwipa

Masih hari ke 2-
Pusat songket Zainal ini juga punya autlet di Jakarta, sempat melihat proses pembuatan di bawah rumah panggung. Mungkin tempat ini dulunya rawa, masuk ruangan harus penuh hormat, menunduk dalam-dalam, karena kalau tidak kepala kepentok lantai rumah. Sekitar 50 wanita penenun dengan asyik tangan trampilnya menari-nari  menarik, melempar, mencungkil, menyambung, wuih... takjub. Selembar kain songket luar biasa indah motif baki perak , sama dengan  5 bulan tetesan keringat penenun. Pantas harganya juga pantastik....
Mudah-mudahan upah para penenun ini juga pantas-tik. Konon songket Zaenal mematok harga tinggi karena menang di desain dan mutu.
Tidak jauh dari tempat songket Zaenal, kami mampir lagi di songket Cek Ipah, juga bagus-bagus, tapi memang benar tidak semenarik Zaenal. Ngobrol sejenak dengan empunya ternyata Cek Ipah adalah Ibunya Zaenal, sudah meninggal sekarang di lanjutkan oleh anaknya yang masih kakak Zaenal. Rupanya sekeluarga berdarah songket, hebat..
Hari menjelang sore, petualangan berlanjut menuju benteng kuto besak, terletak pas di sebelah Jembatan Ampera. Kami turun sejenak, melihat resto perahu yang sedang tambat, dan beberapa pedagang yang bersiap-siap. Agak jauh ditengah ada beberapa perahu dengan generator kecil dan para penyelam keluar masuk perahu, lagi ngapain mereka itu ya?
" Kemarin Rusli dapat durian runtuh, hampir 1m ditangan"  celetuk pedagang teh botol yang melihat aku terpana dengan para penyelam itu.
" Dapat emas sebesar gini " sambil mengacungkan tinjunya.
Oh, jadi mereka itu menyelam berburu emas, katanya banyak emas kuno yang berada di dasar sungai, bisa benbentuk coin maupun benda-benda kuno. Mungkinkah kapal dagang tenggelam di jaman Sriwijaya, menganggkut emas dari negeri Svarnadwipa?.  

Salam,

"bener deh, jangan mati sebelum berarti"